JEDDAH, BisnisMarket.com – Eskalasi militer besar-besaran antara aliansi Israel-Amerika Serikat dengan Iran telah melempar operasional ibadah umrah ke dalam ketidakpastian.
Per Minggu, 1 Maret 2026, ribuan jemaah umrah asal Indonesia menghadapi gangguan jadwal penerbangan menyusul penutupan sejumlah ruang udara di kawasan Timur Tengah.
Kementerian Haji dan Umrah RI melaporkan bahwa setidaknya 58.873 jemaah Indonesia saat ini masih berada di tanah suci, sementara ribuan lainnya di tanah air terpaksa menunda keberangkatan.
Serangan udara yang menargetkan infrastruktur di Iran memicu respons cepat dari otoritas penerbangan sipil dunia. Sejumlah maskapai besar seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad telah mengumumkan penghentian sementara atau perubahan rute penerbangan guna menghindari zona konflik.
Dampak di Soekarno-Hatta: Di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, penumpukan jemaah mulai terlihat. Maskapai transit terpaksa melakukan pembatalan penerbangan (cancellation) karena rute tradisional mereka melintasi wilayah yang kini menjadi medan pertempuran udara.
Klausul Force Majeure: Pemerintah menyatakan bahwa gangguan ini termasuk dalam kategori kejadian luar biasa (force majeure), sehingga maskapai dan biro perjalanan (PPIU) diminta untuk mengatur ulang jadwal tanpa memberikan beban biaya tambahan yang tidak adil kepada jemaah.
Meskipun situasi di wilayah udara bergejolak, pemerintah memastikan bahwa kondisi keamanan di Kota Suci Mekah dan Madinah tetap aman dan kondusif.
Imbauan Tetap Tenang: Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, meminta jemaah yang sudah berada di Arab Saudi untuk tidak panik dan tetap fokus pada ibadah.
Mitigasi Terjebak (Stranded): Kantor Urusan Haji di Jeddah terus berkoordinasi dengan maskapai nasional seperti Garuda Indonesia untuk memprioritaskan pemulangan jemaah yang masa visanya segera habis melalui rute alternatif yang lebih aman.