JAKARTA, BisnisMarket.com - Selama puluhan tahun, merek Jepang menjadi "raja jalanan" di hati masyarakat Indonesia. Mulai dari mobil keluarga hingga kendaraan niaga, nama seperti Toyota, Honda, Suzuki, dan Mitsubishi sudah menjadi jaminan keandalan. Namun sekarang, bayang-bayang perubahan besar mulai membayangi singgasana mereka. Apakah dominasi yang sudah terbangun puluhan tahun ini akan runtuh dalam waktu singkat? Atau Jepang punya senjata rahasia untuk mempertahankan posisinya?

Masa Penentu 2-3 Tahun ke Depan

Dilansir dari Bloomberg Technoz, diakses pada (19/7), periode dua hingga tiga tahun mendatang menjadi momen paling krusial bagi pabrikan otomotif Jepang untuk membuktikan kemampuan mereka di tengah persaingan yang semakin panas. Menurut pakar otomotif Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, tekanan terhadap posisi merek Jepang semakin berat seiring langkah agresif produsen asal Tiongkok.

"Jadi 2 hingga 3 tahun ke depan tampaknya akan menjadi periode yang sangat menentukan bagi pabrikan Jepang dalam menjaga dominasinya di pasar otomotif Indonesia," ujar Yannes.

Produsen China kini tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik murni saja, tetapi menawarkan berbagai lini produk: mulai dari kendaraan bermesin konvensional (ICE), hibrida (HEV), hibrida colok (PHEV), hingga kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) dengan teknologi yang lebih modern dan harga yang sangat bersaing.

Tantangan Bukan Sekadar Buat Mobil Listrik Baru

Banyak orang mengira tantangan utama Jepang adalah terlambat beralih ke kendaraan listrik. Namun kenyataannya lebih dalam dari itu. Yannes menegaskan bahwa tantangan terbesar bukan lagi soal menghadirkan produk EV baru, melainkan kemampuan bersaing di tiga hal utama: harga, teknologi, dan kecepatan berinovasi.

"Jika transisi berjalan terlalu lambat sementara kompetitor Jepang tersebut terus mempercepat inovasi dan efisiensi biaya, persaingan di segmen volume akan semakin ketat," tambahnya.

Di sini letak ujian sesungguhnya: Jepang harus bergerak lebih cepat, menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas, serta menghadirkan fitur-fitur yang sesuai dengan selera konsumen masa kini. Jika tidak, pangsa pasar yang selama ini mereka kuasai perlahan akan beralih ke pesaing yang lebih lincah dan berani mengambil langkah besar.