JAKARTA, BisnisMarket.com -
Bayangkan ada uang melimpah di sistem keuangan, tapi biaya meminjamnya tetap
mahal. Itulah gambaran unik yang terjadi di pasar uang Indonesia pada lelang
Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) Jumat lalu (17/7/2026). Permintaan
melonjak drastis, penyerapan dana diperbesar, namun tekanan biaya pendanaan
belum sepenuhnya mereda. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Minat Investor Melonjak: 98 Persen Dana
Masuk Tenor Panjang
Dilansir dari Bloomberg Technoz (18/7), total
permintaan pelaku pasar pada lelang SRBI terakhir mencapai Rp37,93 triliun –
naik 24,4 persen dibandingkan lelang sebelumnya yang hanya Rp30,67 triliun.
Bank Indonesia pun menaikkan nilai penyerapan dana menjadi Rp17 triliun dari
sebelumnya Rp15 triliun.
Lonjakan minat terpusat pada tenor 12 bulan saja.
Penawaran untuk instrumen ini melonjak 31,6 persen menjadi Rp32,59 triliun, dan
berhasil diserap sebesar Rp16,58 triliun. Artinya, hampir 98 persen total dana
yang diserap BI berasal dari tenor satu tahun ini.
Berbeda dengan tenor 6 bulan, permintaan justru turun
menjadi Rp4,64 triliun, dan penyerapan dipangkas drastis menjadi hanya Rp200
miliar. Sementara untuk tenor 9 bulan, penawaran naik tipis menjadi Rp702
miliar, namun penyerapan dikurangi menjadi Rp220 miliar.
Langkah ini menunjukkan BI secara sengaja mengarahkan
dana ke instrumen berjangka lebih panjang. Tujuannya jelas: menyerap likuiditas
lebih lama dan mengurangi kebutuhan penawaran ulang dalam waktu dekat.
Imbal Hasil Turun Tipis: Tanda Kepercayaan
Pulih
Meskipun minat melonjak, rata-rata imbal hasil (yield)
SRBI justru turun tipis di semua tenor:
· Tenor
6 bulan: turun 0,8 basis poin menjadi 7,22 persen