JAKARTA, BisnisMarket.com -
Angka pertumbuhan ekonomi tampak cerah, namun ada hal menarik yang tersembunyi
di baliknya: meski aktivitas usaha meningkat, pelaku bisnis justru memilih
untuk berjalan pelan dan berhati-hati. Mengapa hal ini terjadi? Apakah
pertumbuhan yang kita nikmati saat ini benar-benar kokoh, atau hanya didorong
oleh faktor sesaat?
Dilansir dari Bloomberg Technoz (18/7), hasil Survei
Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) kuartal II tahun 2026 yang dirilis Bank Indonesia
mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha naik menjadi 12,97
persen, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 10,11 persen.
Semakin tinggi nilai SBT, semakin banyak perusahaan yang melaporkan kondisi
usahanya membaik. Namun, data ini menyimpan tanda tanya besar.
Pertumbuhan Didorong Faktor Musiman, Bukan
Permintaan Kuat
Peningkatan aktivitas usaha saat ini ternyata lebih
banyak didukung oleh faktor sementara, bukan karena lonjakan permintaan
konsumen yang berkelanjutan. Peningkatan tersebut didorong oleh sektor
pertanian yang sedang musim panen, konstruksi yang mendapat dukungan proyek
pemerintah dan swasta, serta sektor pariwisata dan kuliner yang memanfaatkan
momen hari besar keagamaan dan liburan sekolah.
Hal ini terlihat dari tingkat pemanfaatan kapasitas
produksi yang hanya naik tipis menjadi 73,8 persen dari sebelumnya 73,33
persen. Umumnya, perusahaan baru akan mempertimbangkan membangun fasilitas baru
jika pemanfaatan kapasitas sudah mencapai 80 hingga 85 persen. "Artinya,
perusahaan masih mampu memenuhi permintaan pasar dengan hanya mengoptimalkan
aset yang sudah ada," tulis laporan tersebut.
Investasi Melambat, Banyak yang Memilih
Menunda Belanja Modal
Meskipun aktivitas usaha naik, minat investasi justru
belum melesat. Persentase perusahaan yang melakukan investasi turun tajam
menjadi 18,86 persen pada semester I tahun 2026, dibandingkan semester II tahun
2025 yang mencapai 24,83 persen. Nilai investasi juga turun dari 65,29 persen
menjadi 51,16 persen.
Pelaku usaha menyebutkan dua hambatan utama: suku
bunga tinggi sebesar 16,16 persen dan kerumitan perizinan sebesar 16,07 persen.
"Hal ini menunjukkan bahwa tantangan investasi di Indonesia tak cuma
berasal dari tingginya biaya modal, tetapi juga masih terdapat hambatan
struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan," ungkap hasil survei
tersebut.
Menurut ekonom senior Universitas Indonesia, Dr. M.
Chatib Basri, dalam analisisnya di media nasional, kondisi ini wajar terjadi
jika ketidakpastian masih tinggi. "Bisnis tidak hanya melihat pertumbuhan
kuartal ini, tapi juga memproyeksikan kondisi satu hingga dua tahun ke depan.
Jika kebijakan belum pasti, mereka akan menahan diri," ujarnya.