JAKARTA, BisnisMarket.com
- Pernahkah Anda membayangkan dana investasi milik negara yang seharusnya terus
tumbuh justru terlihat “diam di tempat” selama bertahun-tahun? Inilah kondisi
yang kini dialami Indonesia Investment Authority atau INA, lembaga pengelola
aset strategis pemerintah. Di balik angka yang terlihat stabil, tersimpan
dinamika pasar yang cukup menantang untuk dipecahkan.
Posisi Aset INA Terkini
Dilansir dari Bloomberg Technoz (1/7), nilai aset
kelolaan atau Asset Under Management (AUM) INA tercatat sebesar Rp146,2 triliun
pada akhir tahun 2025. Angka ini hanya naik tipis dibandingkan posisi tahun
sebelumnya yang mencapai Rp144,3 triliun. Bahkan jika dibandingkan dengan
puncaknya di akhir 2023 sebesar Rp147,7 triliun, nilainya justru turun sekitar
1,02 persen.
Padahal, sejak resmi beroperasi pada akhir 2020, INA
pernah mencatat pertumbuhan yang sangat mengesankan. Dari Rp87 triliun di akhir
2021, melonjak 25,29 persen menjadi Rp109,9 triliun setahun kemudian sebelum
menyentuh angka tertinggi di tahun 2023. Laju pertumbuhan yang dulu melesat
kini melambat drastis.
Penyebab Utama: Volatilitas Pasar dan Dua
Saham Raksasa
Menurut Eddy Porwanto, Kepala Bidang Keuangan INA,
perlambatan ini tak lepas dari gejolak pasar modal sepanjang tahun 2025.
“Tahun 2025 itu kan sebetulnya pasar modal sangat
bergejolak, porsi dari saham BBRI dan BMRI itu cukup besar di neraca kami,”
dikutip dari keterangannya.
Dua saham bank pelat merah ini ternyata menyumbang
52,4 persen dari total aset INA per akhir 2025. Nilainya mencapai Rp58,2
triliun dari total aset yang tercatat Rp110,09 triliun. Sayangnya, penurunan
harga kedua saham ini cukup dalam: BMRI turun 25,29 persen dan BBRI merosot
27,05 persen seiring koreksi Indeks Harga Saham Gabungan. Akibatnya, nilai
wajar kepemilikan INA menyusut Rp6,79 triliun dalam satu tahun, dan kerugian
yang belum terealisasi dalam dua tahun terakhir mencapai Rp18,46 triliun.
Ada Sisi Positif Juga