JAKARTA, BisnisMarket.com
- Di tengah suasana pasar yang masih diliputi ketidakpastian global dan tekanan
pada nilai tukar rupiah, Bank Indonesia kembali melancarkan langkah tegas.
Lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang digelar Rabu (1/7/2026)
berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp15 triliun. Namun, ada satu hal menarik
yang jadi sorotan: pergeseran besar pada jangka waktu surat berharga tersebut.
Geser ke Tenor Lebih Panjang
Dilansir dari Bloomberg Technoz (1/7), BI terlihat
secara agresif mengubah alokasi lelang ke jangka waktu yang lebih lama. Porsi
SRBI berjangka 12 bulan melonjak tajam menjadi Rp13,5 triliun, dibandingkan
lelang sebelumnya pada 26 Juni yang hanya mencapai Rp8,85 triliun. Sebaliknya,
alokasi untuk tenor 6 bulan dipangkas drastis dari Rp4,35 triliun menjadi hanya
Rp600 miliar.
“Pergeseran ini mengindikasikan bank sentral tak cuma
mau menyerap likuiditas, tetapi juga mengunci lebih lama di sistem keuangan,”
dikutip dari laporan tersebut.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Dengan memperbesar
porsi tenor panjang, BI berharap dapat mengurangi risiko dana kembali beredar
ke pasar dalam waktu singkat—sesuatu yang bisa memicu tekanan baru terhadap
ketersediaan dana maupun nilai tukar rupiah.
Imbal Hasil Tetap Menarik
Persaingan dalam lelang kali ini terbilang cukup
ketat, yang tercermin dari penurunan tingkat imbal hasil di seluruh jangka
waktu. Imbal hasil tenor 6 bulan turun menjadi 7,3 persen dari sebelumnya 7,35
persen, tenor 9 bulan turun ke 7,44 persen dari 7,54 persen, sedangkan tenor 12
bulan turun tipis menjadi 7,69 persen dari 7,7 persen.
Meski turun, SRBI tetap menawarkan keunggulan
dibandingkan surat utang negara. “SRBI menawarkan imbal hasil lebih tinggi
daripada Surat Utang Negara (SUN), yang pada tenor 1 tahun hanya berada di 7,29
persen,” tulis laporan itu.
Rupiah dalam Kondisi Waspada