JAKARTA, BisnisMarket.com - Setelah melalui proses
penawaran awal, PT Niramas Utama Tbk yang dikenal dengan merek dagang Inaco
akhirnya merilis struktur resmi penawaran umum perdananya. Keputusan untuk
menetapkan harga di level terendah serta memangkas jumlah saham yang ditawarkan
menjadi sorotan utama di kalangan pelaku pasar modal.
Harga IPO di Batas Bawah Kisaran
Dilansir dari Bloomberg Technoz pada 1 Juli 2026,
perseroan memutuskan harga penawaran umum sebesar Rp900 per lembar saham. Angka
ini berada tepat di batas bawah dari kisaran awal yang sempat ditetapkan
sebesar Rp900 hingga Rp1.120 per saham.
Tidak hanya soal harga, perseroan juga melakukan
penyesuaian jumlah saham yang dilepas ke publik. Jika pada prospektus awal
direncanakan melepas 350 juta lembar saham baru atau sekitar 11,54 persen dari
modal ditempatkan setelah IPO, maka pada dokumen final jumlah tersebut
dipangkas menjadi 266 juta lembar saham, setara dengan 8,92 persen dari modal
perseroan.
Dana Terkumpul Capai Rp239,4 Miliar
Dengan penetapan harga dan jumlah saham tersebut,
perseroan diproyeksikan akan menghimpun dana segar senilai sekitar Rp239,4
miliar. Dana ini telah dialokasikan untuk mendukung pertumbuhan usaha dan
memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Investor Inggris Ajukan Gugatan Kolektif Triliunan Rupiah Terhadap Binance dan Pendirinya, CZ
Sebagian besar dana hasil IPO, yaitu sekitar 56,70
persen, akan digunakan untuk menambah penyertaan modal pada anak usaha PT
Niramas Pandaan Sejahtera. “Dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pembelian,
pelunasan, dan instalasi mesin produksi beserta peralatan pendukung guna
meningkatkan kapasitas produksi permen kenyal dan produk jeli untuk memenuhi
permintaan pasar domestik maupun ekspor,” dikutip dari keterangan resmi
perseroan.
Selanjutnya, sekitar 10,04 persen dialokasikan untuk
belanja modal guna memperluas kapasitas penyimpanan dan mempercepat alur
logistik. Sebesar 10,90 persen digunakan untuk melunasi seluruh pokok utang
jangka pendek senilai Rp25 miliar ke Bank Mandiri, sedangkan sisa 22,36 persen
menjadi modal kerja untuk pembelian bahan baku, operasional, dan pemasaran.
Catatan Risiko bagi Calon Investor