JAKARTA, BisnisMarket.com - Dunia industri teknologi kembali digemparkan dengan kabar penyesuaian tenaga kerja. Kali ini giliran TikTok yang dikabarkan tengah mempertimbangkan pemangkasan sejumlah karyawan di pusat operasinya yang berada di Eropa. Mengapa hal ini terjadi? Apakah menjadi tanda tantangan baru yang dihadapi perusahaan media sosial raksasa ini?

Dilansir dari Bloomberg Technoz (1/7), TikTok yang berada di bawah naungan ByteDance Ltd. berencana memangkas sekitar 300 pekerja di kantor pusat operasinya di Dublin, Irlandia. Langkah ini dilakukan tak lama setelah perusahaan yang sama melakukan penyesuaian tenaga kerja dengan skala yang hampir sama pada tahun sebelumnya.

Restrukturisasi di Berbagai Bidang

Menurut informasi yang dikutip dari surat edaran internal yang beredar, TikTok akan merombak sejumlah tim penting. Restrukturisasi ini mencakup tim layanan data kecerdasan buatan (AI) dan tim operasional di wilayah tersebut. Selain itu, kegiatan jaminan kualitas juga akan dipindahkan dan disatukan ke pusat-pusat regional lainnya.

Perwakilan perusahaan memberikan penjelasan terkait kebijakan ini. “Kami tengah menjajaki reorganisasi untuk memperkuat model operasional global kami dalam hal kepercayaan dan keamanan, termasuk usulan untuk mengembangkan cara kerja kami guna memastikan tim tetap dapat berkembang dan gesit,” ujar juru bicara TikTok.

Meskipun jumlah karyawan akan berkurang sekitar 300 orang secara keseluruhan, pihak perusahaan menyebutkan bahwa proses ini tidak sepenuhnya berarti pemutusan hubungan kerja secara sepihak. Sebagian karyawan yang posisinya terdampak akan ditawari kesempatan untuk mengisi jabatan lain di dalam perusahaan. Di sisi lain, proses restrukturisasi ini juga membuka peluang bagi lahirnya peran-peran pekerjaan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis saat ini.

Pusat Strategis yang Terus Berubah

Dublin selama ini dikenal sebagai pusat utama operasi kepercayaan dan keamanan TikTok di Eropa, mencakup tugas moderasi konten hingga perlindungan data pengguna. Sebelumnya, tepatnya pada Maret 2025, perusahaan ini juga telah memberitahukan rencana serupa kepada pemerintah setempat, yaitu memangkas sekitar 300 karyawan atau setara dengan 10 persen dari total tenaga kerjanya di wilayah tersebut.

Fenomena pemangkasan tenaga kerja ini bukanlah hal yang terpisah dari tren industri teknologi secara luas. Kota yang menjadi tujuan banyak perusahaan teknologi asing seperti Meta dan Amazon ini juga mengalami gelombang penyesuaian tenaga kerja dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gambaran, Meta bahkan pernah melakukan pemangkasan hingga mencapai 20 persen tenaga kerjanya di Irlandia, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata global perusahaan tersebut yang hanya sekitar 10 persen.