BISNISMARKET.COM - Keputusan Iran untuk mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut, menyusul insiden tragis yang menimpa ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, telah memicu respons internasional yang beragam.

Pemerintah Republik Rakyat China akhirnya angkat bicara mengenai suksesi kepemimpinan di Teheran yang berlangsung cepat tersebut. Sikap Beijing ini menjadi sorotan mengingat peran strategis Iran di kawasan Timur Tengah.

China dengan tegas menyatakan bahwa penunjukan pemimpin tertinggi Iran merupakan ranah internal yang sepenuhnya menjadi urusan domestik Republik Islam Iran. Hal ini disampaikan sebagai penegasan prinsip non-intervensi dalam kedaulatan negara lain.

Lebih lanjut, Beijing juga melontarkan peringatan keras terhadap pihak manapun yang berniat mengganggu atau menyerang Mojtaba Khamenei dalam kapasitasnya sebagai pemimpin baru.

"China menentang setiap upaya untuk menyerang dia," merupakan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China terkait situasi politik Iran saat ini.

Situasi di kawasan menjadi semakin tegang mengingat adanya ancaman militer yang telah dilontarkan oleh pihak Israel sebelumnya terhadap penerus mendiang Khamenei.

Militer Israel secara eksplisit sempat mengancam akan menyasar pengganti Ayatollah Ali Khamenei, terutama setelah pemimpin terdahulu tersebut gugur dalam serangan yang diklaim melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.

Di sisi lain, pandangan Amerika Serikat terhadap figur Mojtaba Khamenei tampak kontras dengan realitas politik yang kini terjadi di Iran.

Presiden AS, Donald Trump, pernah melabeli Mojtaba Khamenei sebagai "tokoh yang tidak berpengaruh" di masa lalu. Trump juga sempat menekankan perlunya suara Amerika dalam proses penentuan pemimpin Iran yang baru.