BISNISMARKET.COM - Bulan Ramadan selalu membawa berkah dengan peningkatan aktivitas ibadah dan kegiatan komunal di masjid-masjid besar seperti Istiqlal. Namun, lonjakan aktivitas ini secara simultan menimbulkan tantangan signifikan terkait pengelolaan limbah harian.

Peningkatan volume sampah menjadi isu serius yang perlu diantisipasi oleh pengelola kebersihan lingkungan. Pemicu utamanya adalah peningkatan konsumsi makanan untuk berbuka puasa dan sahur, serta penggunaan kemasan sekali pakai.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah merilis proyeksi mengkhawatirkan mengenai potensi timbulan sampah nasional selama periode mudik dan libur Lebaran 2025 mendatang. Angka ini menunjukkan skala tantangan yang dihadapi sektor persampahan nasional.

"Potensi timbulan sampah selama masa mudik dan libur Lebaran 2025 mencapai sekitar 73,24 juta kilogram atau 73,24 ribu ton," demikian proyeksi yang dikeluarkan oleh KLH.

Proyeksi ini diperkuat oleh prediksi peningkatan sampah sisa makanan yang diperkirakan akan mengalami kenaikan antara 10 hingga 20 persen selama bulan puasa. Peningkatan ini sangat terkait erat dengan perubahan pola konsumsi masyarakat.

Data Kementerian Perhubungan menjadi dasar perhitungan ini, yang menyebutkan bahwa jumlah total pemudik yang diperkirakan akan melakukan perjalanan mencapai 146,8 juta orang tahun ini. Jumlah pergerakan manusia yang masif ini pasti berbanding lurus dengan produksi sampah.

Dampak peningkatan sampah bahkan bisa jauh lebih ekstrem di beberapa wilayah spesifik, seperti yang disoroti oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Fenomena ini menunjukkan disparitas peningkatan sampah antar daerah.

"Untuk wilayah Bandung Raya pada momen Ramadan 2025 yang mengalami peningkatan sampah hingga 40%," contoh peningkatan signifikan yang diamati oleh BRIN.

Penyebab peningkatan tajam di daerah seperti Bandung Raya dijelaskan lebih lanjut oleh BRIN karena beberapa faktor utama yang sering terjadi selama Ramadan. Hal ini meliputi penyajian makanan dalam jumlah berlebih, maraknya pembagian parsel, dan tingginya penggunaan alat makan sekali pakai.