JAKARTA, BisnisMarket.com – Masyarakat Indonesia diminta untuk mulai bersiap menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan bahwa musim kemarau tahun 2026 akan datang lebih cepat dari jadwal biasanya dan diprediksi berlangsung dalam durasi yang lebih lama (panjang).
Kepala BMKG, Prof. Ir. Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers di Jakarta (4/3), mengungkapkan bahwa fenomena ini dipicu oleh beralihnya fase La Niña menuju fase Netral, yang kemudian berpotensi besar berkembang menjadi El Niño pada pertengahan tahun 2026.
BMKG mencatat bahwa sekitar 46,5% dari total Zona Musim (ZOM) di Indonesia akan mengalami awal kemarau yang "maju" atau lebih cepat dari rata-rata klimatologisnya.
Mulai April 2026: Kemarau akan menyapa 114 ZOM, meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah, Jawa Timur, serta wilayah Bali, NTB, dan NTT.
Mei - Juni 2026: Sebanyak 347 ZOM lainnya di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi akan menyusul masuk ke fase kering.
Salah satu poin krusial dalam prediksi tahun ini adalah durasi kemarau. BMKG memproyeksikan bahwa 57,2% wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau dengan durasi yang melampaui batas normal.
"Secara akumulatif, curah hujan pada periode kemarau 2026 di 451 zona musim diprediksi berada pada kategori Bawah Normal. Artinya, kondisi tahun ini akan jauh lebih kering jika dibandingkan dengan tahun 2025," jelas Teuku Faisal.
Puncak kekeringan diperkirakan akan terjadi secara masif pada bulan Agustus 2026, mencakup 61,4% wilayah Indonesia. Pada periode ini, wilayah Sumatera bagian selatan, seluruh Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Papua akan merasakan dampak paling signifikan dari minimnya curah hujan.
Dampak dan Langkah Mitigasi