BISNISMARKET.COM - Pemerintah Republik Indonesia secara konsisten mengintensifkan dorongan terhadap penggunaan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) sebagai benteng pertahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Strategi ini menjadi krusial mengingat struktur perdagangan Indonesia yang mayoritas melibatkan mitra dagang yang tidak menggunakan dolar AS.
Langkah ini menawarkan peluang besar untuk memangkas ketergantungan struktural negara terhadap mata uang utama dunia, khususnya dolar Amerika Serikat, dalam berbagai aktivitas perdagangan internasional. Upaya ini sejalan dengan upaya diversifikasi pembayaran bilateral yang sedang digalakkan.
Kinerja perdagangan Indonesia menunjukkan fundamental yang positif, terbukti dengan surplus perdagangan yang tercatat sekitar US$1,27 miliar pada Februari 2026. Surplus ini sebagian besar disokong oleh sektor ekspor komoditas nonmigas seperti batu bara, minyak sawit, serta besi dan baja.
Fondasi perdagangan yang kuat ini menjadi landasan yang kokoh bagi perluasan implementasi skema LCT dalam setiap transaksi lintas negara yang dilakukan oleh para pelaku usaha. Pemerintah terus memantau perkembangan adopsi LCT di berbagai sektor industri nasional.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan menekankan betapa pentingnya peran LCT dalam menjaga stabilitas fundamental ekonomi Indonesia. Pemerintah dan Bank Indonesia secara aktif memperkuat kerangka kerja sama LCT ini dalam forum-forum internasional.
"Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi," ujar Ferry Irawan.
Sejak diperkenalkan pertama kali pada tahun 2018, adopsi LCT telah meluas dari sektor manufaktur hingga layanan, dengan kerja sama yang telah terjalin mencakup negara-negara mitra kunci seperti Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Perkembangan positif ini terekam jelas dari lonjakan nilai transaksi LCT pada dua bulan pertama tahun 2026, yang dilaporkan mencapai sekitar US$8,45 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan substansial dibandingkan periode Januari hingga Februari tahun sebelumnya yang hanya tercatat sebesar US$3,21 miliar.
"Transaksi LCT telah menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam nilai, partisipasi, dan adopsi pasar. Pada Januari-Februari 2026, nilai transaksi mencapai sekitar USD8,45 miliar, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode sama tahun lalu yang sebesar USD3,21 miliar pada. Pertumbuhan ini juga didukung peningkatan jumlah pengguna yang mencapai 14.621 pada Februari 2026, dengan rata-rata 16.030 pengguna per bulan, jauh di atas rata-rata bulanan tahun 2025 sebesar 9.720 pengguna," jelas Ferry Irawan.