BISNISMARKET.COM - Industri alat kesehatan (alkes) di Indonesia kini menghadapi badai tantangan ganda yang mengancam keberlangsungan produksinya. Tekanan utama datang dari gejolak makroekonomi global, khususnya pelemahan nilai tukar Rupiah yang dipicu oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Situasi kurs yang tidak stabil ini memberikan pukulan telak bagi produsen alkes domestik. Sebab, sebagian besar komponen bahan baku yang digunakan dalam produksi masih harus diimpor dari luar negeri.

Gangguan pada rantai pasok global turut memperparah kondisi yang sudah rentan ini. Kenaikan biaya input secara langsung mendongkrak harga pokok produksi alat kesehatan di dalam negeri.

Selain faktor ekonomi eksternal, sektor ini juga mengeluhkan ketidakpastian dari sisi kebijakan domestik. Perubahan regulasi yang terjadi secara sporadis menjadi batu sandungan signifikan bagi perencanaan jangka panjang pengusaha.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Wakil Ketua Bidang Industri dan Produksi Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan Indonesia (Gakeslab), Charles Effendy. Ia menyoroti bagaimana dinamika kebijakan dapat menghambat investasi.

"Industri alkes yang masih mengandalkan bahan baku impor mengalami tekanan imbas pelemahan nilai tukar hingga gangguan rantai pasok global," ungkap Charles Effendy, dilansir dari CNBC Indonesia.

Charles Effendy juga menekankan pentingnya kepastian pasar bagi produk alkes yang sudah berhasil diproduksi secara lokal. Regulasi yang berubah-ubah menciptakan kekhawatiran mengenai serapan produk dalam negeri.

"Selain itu industri alkes menghadapi tantangan terkait kebijakan dan aturan yang kerap berubah, salah satunya terkait kepastian serapan pasar bagi produk alkes lokal," kata Charles Effendy.

Semua tantangan berat ini menjadi sorotan utama dalam diskusi mendalam mengenai prospek industri alkes ke depan. Mereka menyoroti bagaimana gejolak tahun 2026 akan membentuk masa depan sektor vital ini.