BISNISMARKET.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja membagikan hasil pertemuan pentingnya dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pertemuan strategis ini berlangsung di sela-sela kunjungan kerjanya ke Washington DC, Amerika Serikat, pada pertengahan April 2026 lalu.
Dilansir dari CNBC Indonesia, agenda utama dalam pertemuan tersebut membahas ketahanan fiskal Indonesia menghadapi dinamika ekonomi global. Purbaya menjelaskan bagaimana Indonesia berkomitmen menjaga batasan defisit APBN tetap berada di level 3 persen.
Diskusi tersebut dikabarkan berlangsung cukup alot, terutama saat membahas kebijakan fiskal Indonesia dalam merespons lonjakan harga minyak dunia. Purbaya memaparkan langkah-langkah penghematan yang telah disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas keuangan negara.
"Debat seru tentang kebijakan dan langkah kita, terutama bagaimana menutup defisit 3 persen saat harga minyak naik. Kami menjelaskan adanya upaya penghematan di berbagai sektor serta optimalisasi pendapatan dari sumber daya alam, sehingga kondisi tetap aman meski IMF dan Bank Dunia sempat meragukannya," ungkap Purbaya Yudhi Sadewa.
Pemerintah Indonesia meyakinkan lembaga internasional tersebut bahwa kebijakan yang telah direncanakan dapat berjalan secara efektif. Fokus utama solusi yang ditawarkan adalah kemandirian fiskal melalui efisiensi belanja negara dan pemanfaatan kekayaan alam secara maksimal.
Dalam kesempatan yang sama, Purbaya mengungkapkan bahwa kedua lembaga keuangan dunia tersebut sempat menawarkan bantuan pinjaman kepada Indonesia. Nilai tawaran utang yang diajukan berkisar antara US$ 20 miliar hingga US$ 30 miliar untuk membantu kebutuhan negara.
Menanggapi tawaran dari Bank Dunia, Purbaya memilih untuk tidak memberikan respons langsung atau bersikap diam. Namun, sikap tegas ditunjukkan sang Menteri Keuangan saat menghadapi tawaran serupa yang datang dari pihak IMF.
"Terhadap Bank Dunia saya diam saja, meskipun mereka terus menawarkan agar kita berutang. Kepada IMF, saya sampaikan terima kasih atas tawarannya namun saya tegaskan belum membutuhkannya karena kita masih memiliki cadangan US$ 25 miliar sendiri, sehingga keuangan kita masih sangat aman," tegas Purbaya Yudhi Sadewa.
Keputusan untuk menolak utang tersebut didasari oleh kepercayaan diri pemerintah terhadap kekuatan likuiditas domestik saat ini. Purbaya memastikan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup tangguh untuk menghadapi guncangan eksternal tanpa harus menambah beban utang baru.