BISNISMARKET.COM - Nama KH. Muhammad Anwar Manshur, atau yang akrab disapa Mbah Anwar atau Mbah Yai War, kembali mencuat ke permukaan setelah munculnya kontroversi tayangan Trans7 yang dianggap melecehkan kalangan pesantren. Figur karismatik yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo ini menjadi pusat perhatian publik karena lembaga yang diasuhnya disebut-sebut dalam tayangan tersebut. Kasus ini kemudian berkembang menjadi gerakan besar dengan tagar #BoikotTrans7, yang menggema di berbagai media sosial.
KH. Muhammad Anwar Manshur merupakan salah satu tokoh sentral dalam dunia pesantren di Jawa Timur. Beliau lahir dan besar di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dan merupakan keturunan langsung dari KH. Abdul Karim, pendiri pesantren legendaris tersebut. Ibunya, Nyai Salamah, adalah putri ketiga dari KH. Abdul Karim, sedangkan ayahnya, KH. Manshur dari Jombang, juga dikenal sebagai ulama terpandang di masanya.
Sejak kecil, Mbah Anwar tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kuat. Ia memulai pendidikan agama di lingkungan keluarganya sendiri, kemudian melanjutkan menimba ilmu di beberapa pesantren besar, seperti Pacul Gowang dan Tebuireng Jombang**ll, sebelum akhirnya kembali ke Lirboyo untuk mengabdikan diri.
Dalam kehidupan pribadinya, Kiai Anwar menikah tiga kali. Istri pertamanya, Nyai Umi Kulsum, merupakan putri dari KH. Ma’ruf Ali. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai delapan orang anak, tiga putra dan lima putri. Setelah wafatnya sang istri, ia menikah lagi dengan Nyai Husna binti KH. Ahmad, lalu dengan Nyai Mahfudzotin dari Pesantren Peterongan Jombang. Dari dua pernikahan terakhir, beliau tidak dikaruniai anak.
Sebagai pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Muhammad Anwar Manshur dikenal sebagai figur yang sederhana, telaten, dan sangat perhatian terhadap santri-santrinya. Ia menekankan pentingnya akhlak dan kesucian hati sebagai pondasi utama dalam menuntut ilmu. Dalam setiap nasihatnya, beliau selalu mengingatkan bahwa santri sejati bukan hanya yang pandai membaca kitab, tetapi juga yang menjaga perilaku dan adabnya.
Selain mendidik, Kiai Anwar juga aktif dalam organisasi keagamaan. Beliau pernah menjabat sebagai Rois Suriah PWNU Jawa Timur, Ketua Yayasan Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri, serta menjadi salah satu Mustasyar PBNU. Dalam kesehariannya, beliau dikenal gemar bersilaturahmi dan sering menghadiri acara masyarakat sekitar, mencerminkan sosok ulama yang dekat dengan umat.
Kiai Anwar juga dikenal memiliki kepedulian terhadap masalah akidah dan moralitas. Beliau berulang kali mengingatkan pentingnya membentengi diri dari aliran-aliran menyimpang dan menegakkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi dasar pendidikan di Lirboyo.
Kontroversi Ponpes Lirboyo dengan Aksi Boikot Trans7
Kasus boikot Trans7 bermula dari tayangan program televisi yang menampilkan potongan visual dan narasi terkait kehidupan di pesantren. Tayangan tersebut dinilai tidak sopan karena menyinggung simbol-simbol penghormatan santri terhadap kiai. Banyak pihak menilai, isi program itu memelintir tradisi pesantren dan menampilkan adegan yang seolah mengejek bentuk penghormatan santri terhadap guru.
Gelombang kritik pun muncul dari kalangan alumni, santri, dan masyarakat luas. Media sosial dipenuhi dengan tagar #BoikotTrans7, menuntut permintaan maaf dan klarifikasi resmi dari pihak stasiun televisi. Reaksi keras ini muncul bukan hanya karena tayangan dianggap melecehkan, tetapi juga karena menyentuh nilai-nilai sakral yang selama ini dijunjung tinggi di lingkungan pesantren.