BISNISMARKET.COM - Sosok Gusti Kanjeng Ratu Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, putri sulung Pakubuwono XIII, kembali menjadi perhatian publik setelah secara tegas menolak penobatan KGPH Hangabehi sebagai Pakubuwono XIV.
Penobatan yang digelar di Sasana Handrawina oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) tersebut memicu ketegangan besar di lingkungan Keraton Solo, terutama setelah GKR Timoer Rumbai bersama adik-adiknya mendatangi lokasi dan menyatakan penolakan secara langsung.
Kehadirannya di tengah prosesi sakral itu membuat suasana menjadi memanas, menandai bahwa konflik internal keluarga keraton masih jauh dari kata selesai.
Menurut GKR Timoer, pengangkatan KGPH Hangabehi tidak sesuai dengan komunikasi keluarga yang semestinya dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh keturunan PB XIII. Ia menilai proses tersebut tidak mengikuti mekanisme internal yang seharusnya dipatuhi dalam penentuan suksesi.
Bahkan perdebatan sempat terjadi antara dirinya dan ketua LDA, yang juga merupakan salah satu kerabat inti keraton. Insiden tersebut mempertegas bahwa perbedaan pandangan mengenai suksesi raja tak hanya terjadi di balik pintu istana, tetapi kini mencuat ke ruang publik.
GKR Timoer sendiri merupakan anak sulung PB XIII dari pernikahan dengan KRA Endang Kusumaningdyah. Dari pernikahan itu lahir tiga putri yang dikenal aktif dalam kegiatan budaya, yakni GKR Timoer, Raden Ayu Grey Devi Leliana Dewi, dan Raden Ayu Grey Dewi Ratih Widyasari.
Sebagai putri tertua, GKR Timoer kerap dianggap memiliki posisi simbolis penting dalam dinamika keluarga keraton, terutama terkait adat, paugeran, dan warisan budaya.
Di luar urusan internal keraton, GKR Timoer dikenal memiliki ketertarikan kuat terhadap dunia seni. Ia berjiwa seni dan sering hadir dalam acara budaya keraton maupun kegiatan seni yang digelar komunitas lokal.
Pada tahun 2024, ia bahkan menjajal dunia akting lewat film "Ambyar Makbyar', di mana ia beradu peran dengan sejumlah figur populer di jagat hiburan Jawa. Perannya di film itu sempat menjadi perbincangan publik dan menunjukkan sisi lain GKR Timoer yang jauh dari stereotip bangsawan keraton.