JAKARTA, BisnisMarket.com - Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.614 per dolar AS atau melemah 84 poin dibanding perdagangan sebelumnya.
Pelemahan ini setara minus 0,48 persen dan langsung menjadi perhatian pelaku pasar keuangan. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekuatan dolar AS yang kembali mendominasi pergerakan pasar global.
Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga terlihat kompak berada di zona merah. Won Korea Selatan tercatat melemah 0,50 persen, baht Thailand turun 0,28 persen, dan ringgit Malaysia terkoreksi 0,39 persen.
Selain itu, yuan China juga ikut melemah 0,14 persen terhadap dolar AS. Yen Jepang turun 0,11 persen, dolar Singapura melemah 0,15 persen, sementara peso Filipina ikut tertekan sebesar 0,13 persen.
Tekanan terhadap mata uang ternyata tidak hanya terjadi di kawasan Asia. Sejumlah mata uang negara maju juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris turun 0,28 persen, dolar Australia terkoreksi 0,47 persen, hingga euro Eropa melemah 0,19 persen.
Analis pasar uang Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang terjadi setelah pasar merespons positif pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pelaku pasar menilai pertemuan kedua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia tersebut berpotensi membawa arah baru bagi hubungan perdagangan global. Optimisme itu mendorong investor kembali memburu dolar AS sebagai aset aman.
Meski begitu, hingga saat ini pasar masih menunggu hasil resmi dari pembicaraan tersebut. Belum adanya pernyataan final membuat pergerakan mata uang global masih sangat fluktuatif.
Menurut Lukman, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.500 hingga Rp17.650 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Rentang tersebut dinilai masih cukup sensitif terhadap perkembangan sentimen global.