BISNISMARKET.COM - Presiden Prabowo Subianto kini tengah memacu langkah besar untuk mengubah peta energi nasional melalui percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Target yang dipasang tidak main-main, yakni mencapai kapasitas terpasang sebesar 100 gigawatt (GW) dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.
Langkah ambisius ini diharapkan dapat tuntas paling lambat pada tahun 2029 mendatang. Dilansir dari CNBC Indonesia, visi besar ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat transisi menuju energi bersih yang lebih mandiri di tanah air.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa energi surya kini telah diposisikan sebagai pilar utama EBT nasional. Perencanaan ini mengalami perubahan drastis mengikuti arahan terbaru dari kepala negara.
"Dalam perencanaan menuju Net Zero Emission 2060, kita tahu di dalam RUPTL PLN sampai dengan 2034, pembangkit listrik tenaga surya sebetulnya direncanakan 17,1 GW. Dan saat ini ada perintah direction dari Pak Presiden bahwa pembahasan mengenai pembangkit listrik tenaga surya khususnya 100 GW sedang bergulir," kata Eniya Listiani Dewi.
Pernyataan tersebut disampaikan Eniya dalam agenda peluncuran 1 GW PLTS Atap Indonesia yang berlangsung pada Selasa (21/4/2026). Meskipun target ini sangat tinggi, pemerintah tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap proses implementasinya.
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional tetap terjaga dengan baik di tengah masuknya energi intermiten. Selain itu, kesiapan infrastruktur di lapangan menjadi kunci utama agar target 100 GW tersebut bukan sekadar angka di atas kertas.
Saat ini, perkembangan kapasitas terpasang PLTS di Indonesia menunjukkan tren yang terus merangkak naik secara bertahap. Hingga saat ini, total kapasitas yang sudah terpasang secara nasional telah menyentuh angka sekitar 1,5 GW.
"Kita saat ini sudah bisa bergembira karena pembangkit listrik tenaga surya yang terinstal di Indonesia secara keseluruhan itu sudah mencapai 1,5 GW. Dan khusus PLTS atap ini sudah mencapai 895 MW. Kita masih berjuang nih untuk bisa lebih dari 1 gw," ujar Eniya Listiani Dewi.
Guna mencapai lonjakan kapasitas yang signifikan, strategi pengembangan tidak lagi hanya mengandalkan lahan daratan atau ground-mounted. Pemerintah kini mulai melirik potensi besar pada atap bangunan serta area perairan melalui konsep PLTS terapung atau floating solar.