BISNISMARKET.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai puncaknya setelah Washington melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Teheran. Sebagai respons diplomatik yang tajam, Iran memutarbalikkan narasi operasi militer AS tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, secara terbuka mengejek operasi militer AS yang diberi nama sandi "Operasi Epic Fury". Ia dengan sengaja mengubah nama tersebut menjadi julukan yang lebih merendahkan bagi Washington.

Dalam sebuah unggahan yang dilihat pada Rabu (11/3/2026), Araghchi menuliskan julukan baru tersebut.

"Operasi Epic Mistake," tulisnya, sebagai bentuk sindiran terhadap kegagalan strategi AS, dilansir dari CNBC Indonesia.

Lebih lanjut, Araghchi menyoroti dampak ekonomi yang terjadi pasca-serangan tersebut. Ia mengklaim bahwa dampak dari apa yang disebutnya "kesalahan epik" ini sudah mulai terasa di pasar global.

"Pada hari kesembilan 'Operasi Epic Mistake', harga minyak telah berlipat ganda, dan semua barang dengan cepat menjadi lebih mahal," tambahnya, menggarisbawahi krisis inflasi yang menyertai konflik tersebut.

Iran mengklaim telah mengantisipasi langkah agresif AS yang menargetkan aset vital negara tersebut. Teheran menegaskan bahwa mereka berada dalam posisi siap tempur untuk menghadapi eskalasi lebih lanjut.

"Kita tahu AS sedang merencanakan serangan terhadap fasilitas minyak dan nuklir kita, berharap untuk menahan guncangan inflasi yang sangat besar. Iran sepenuhnya siap. Dan kita juga memiliki banyak kejutan," tulis Araghchi lagi, menegaskan kesiapan pertahanan mereka.

Serangan udara gabungan AS-Israel yang memicu penutupan Selat Hormuz telah memberikan tekanan signifikan pada pasar energi. Hal ini terbukti dari kenaikan harga bensin berjangka AS yang mencapai level tertinggi sejak tahun 2022.