BISNIS MARKET- Cara kerja jaringan terorisme semakin hari semakin meresahkan saja. Apalagi korbannya adalah anak-anak.
Di mana anak-anak usia 10-18 yang menjadi korban jaringan terorisme adalah fase di mana anak mencari jati diri dan mudah dipengaruhi hal-hal menantang dan baru.
Hal ini diketahui berdasarkan berita dari Densus 88 antiteror Polri. Di mana jaringan terorisme mulai mengincar anak-anak lewat media sosial dengan propaganda visual menarik seperti video, animasi, meme hingga musik.
Hal-hal yang menjadi penyebab anak-anak mudah terpengaruh adalah kerentanan sosial seperti bullying dan kurangnya perhatian keluarga.
Untuk itu, pentingnya literasi digital dan pemahaman agama jadi kunci pencegahan radikalisasi dini.
Densus 88 Antiteror Polri mengungkap jaringan terorisme menyasar anak-anak dan pelajar melalui media sosial.
Dengan menyebarkan propaganda berupa video pendek, animasi, meme, dan musik yang menarik serta memicu kedekatan emosional.
Adapun propaganda ini memanfaatkan kerentanan anak, termasuk faktor sosial seperti perundungan (bullying), keretakan keluarga (broken home).
Termasuk kurangnya perhatian keluarga, pencarian jati diri, marginalisasi sosial, serta rendahnya literasi digital dan pemahaman agama.