BISNISMARKET.COM - Kawasan Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi perdagangan global, kini diselimuti ketidakpastian menyusul serangkaian insiden maritim yang mengkhawatirkan. Sebanyak sepuluh kapal dilaporkan telah menjadi sasaran serangan di perairan strategis tersebut.

Serangan-serangan ini terjadi sebagai respons langsung dari Iran setelah jalur perairan krusial tersebut diblokir. Pemblokiran ini merupakan balasan atas gabungan aksi militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Insiden ini telah menyebabkan dampak signifikan terhadap pergerakan laut di area vital tersebut. Lalu lintas kapal, baik yang membawa minyak maupun komoditas lainnya, dilaporkan hampir sepenuhnya terhenti sejak perang meletus pada tanggal 28 Februari lalu.

Badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) turut memantau perkembangan situasi yang semakin memanas ini. Mereka telah mengeluarkan sejumlah peringatan resmi terkait dengan aktivitas mencurigakan di zona tersebut.

UKMTO mencatat telah ada sepuluh peringatan serangan yang mereka keluarkan sejak kondisi memburuk. Hal ini menunjukkan intensitas ancaman yang dihadapi oleh armada niaga internasional di Hormuz.

Menurut informasi yang dihimpun, UKMTO telah mengeluarkan total sepuluh peringatan serangan serta peringatan aktivitas mencurigakan lainnya. Meskipun demikian, detail mengenai kapal-kapal yang terlibat dalam insiden ini masih sangat minim.

"UKMTO, seperti dilansir AFP, Senin (9/3/2026), telah mengeluarkan 10 peringatan serangan serta peringatan aktivitas mencurigakan," ujar seorang analis keamanan maritim.

Lebih lanjut, sumber tersebut menambahkan bahwa otoritas terkait "tetapi hanya merilis sedikit detail tentang kapal-kapal yang terlibat," menggarisbawahi kerahasiaan informasi di tengah situasi sensitif ini.

Kondisi ini menyoroti betapa rapuhnya keamanan jalur pelayaran internasional ketika terjadi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.