BISNISMARKET.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara tegas menolak tawaran bantuan pendanaan utang dari Dana Moneter Internasional (IMF). Langkah ini diambil meskipun kondisi ekonomi global saat ini sedang mengalami guncangan hebat yang menekan stabilitas finansial banyak negara.

Penolakan tersebut terjadi dalam pertemuan resmi antara pemerintah Indonesia dengan Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, di Washington DC, Amerika Serikat. Pertemuan strategis yang membahas arah ekonomi dunia ini berlangsung pada pekan lalu, tepatnya tanggal 14 Juni.

"Kami sempat mempertanyakan kebijakan khusus IMF dalam menekan ketidakpastian global, namun mereka hanya menawarkan dana bantuan bagi negara yang membutuhkan, sementara Indonesia masih memiliki bantalan fiskal Rp420 triliun sehingga bantuan tersebut tidak diperlukan," ujar Purbaya.

Dilansir dari CNBC Indonesia, Purbaya menegaskan bahwa postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini masih dalam kondisi yang sangat kokoh. Kekuatan fiskal tersebut didukung oleh Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang mencapai angka signifikan, yakni sebesar Rp420 triliun.

"Ketahanan ekonomi kita saat ini adalah hasil dari perubahan kebijakan sejak tahun lalu yang terbukti mampu menyerap guncangan akibat ketidakpastian global dan kenaikan harga minyak," ujar Purbaya.

Pihak IMF sendiri sempat mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu tetap solid di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu. Pemerintah mengklaim bahwa reformasi kebijakan yang dijalankan sejak tahun sebelumnya telah membuat struktur ekonomi nasional lebih siap menghadapi berbagai guncangan eksternal.

"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan finansial dalam jumlah besar, baik melalui pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah ada," ujar Georgieva.

IMF memprediksi bahwa setidaknya terdapat belasan negara yang akan mengajukan program pinjaman baru untuk mengatasi lonjakan harga energi. Krisis ini diperparah oleh gangguan rantai pasokan global yang dipicu oleh meluasnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Kristalina Georgieva juga memberikan peringatan serius mengenai potensi gangguan pasokan akibat kemungkinan penutupan Selat Hormuz dalam waktu dekat. Ia mendesak negara-negara di dunia untuk segera mengambil langkah mitigasi guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.