JAKARTA, BisnisMarket.com
- Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan tanda pemulihan dalam dua hari
terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses mencatatkan penguatan lebih
dari 0,87 persen dan bertengger di angka 5.744. Namun, ada satu hal yang
membuat pelaku pasar bertanya-tanya: mengapa kenaikan indeks ini tidak
dibarengi dengan peningkatan aktivitas perdagangan yang signifikan?
Penguatan Tanpa Semangat Perdagangan
Hingga penutupan perdagangan hari ini, total nilai
transaksi saham hanya mencapai Rp11,14 triliun. Angka ini terbilang rendah jika
dibandingkan dengan kondisi normal pasar yang biasanya lebih aktif.
Dilansir dari Bloomberg Technoz pada 2 Juli 2026,
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menjelaskan
kondisi ini sebagai dampak gabungan dari berbagai faktor yang masih membebani
pasar.
“Market kita cenderung sepi karena dipicu oleh aksi
jual bersih investor asing secara besar-besaran, pelemahan nilai tukar rupiah,
serta sikap pelaku pasar domestik yang memilih mengambil posisi menunggu dan
melihat akibat minimnya katalis positif yang ada di pasar saat ini,” ujarnya.
Faktor Lain yang Membuat Pasar Lesu
RUU PFII Diseriusi Pemerintah: Langkah Strategis Membawa Indonesia Jadi Pusat Keuangan Global
Selain tekanan dari arus modal asing dan kondisi mata
uang, ada alasan lain yang membuat likuiditas terasa seret. Menurut analis
Panin Sekuritas, Zaidan, perhatian para investor juga terpecah ke berbagai
penawaran umum perdana saham atau yang lebih dikenal dengan istilah IPO.
Di sisi lain, sikap hati-hati pelaku pasar juga
dipengaruhi oleh belum kondusifnya kondisi makroekonomi dalam negeri serta
penundaan keputusan klasifikasi pasar dari lembaga internasional MSCI.
“Karena kombinasi ramainya IPO dan sikap konservatif
pasar seiring sentimen makro domestik yang belum akomodatif, serta ditundanya
keputusan MSCI,” tambah Zaidan.