JAKARTA, BisnisMarket.com
- Pertengahan tahun 2026 menjadi catatan kelam bagi perjalanan Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG). Di saat bursa-bursa lain di kawasan Asia Tenggara melaju
menguat atau hanya sedikit tertekan, IHSG justru terperosok jauh ke dalam zona
merah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa penyebab utamanya, dan saham mana saja
yang menjadi sasaran utama aksi jual pemodal asing?
Kinerja IHSG Jauh Tertinggal
Dilansir dari Bloomberg Technoz (2/7), “Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) mencatat return negatif 34,74 persen sampai akhir paruh
pertama 2026.” Angka ini membuat IHSG berada di posisi terbawah jika
dibandingkan dengan bursa saham negara tetangga.
Sebagai gambaran, Indeks SET Thailand justru mencatat
kenaikan yang sangat signifikan mencapai 26 persen. Diikuti Indeks STI
Singapura yang naik 11,29 persen, serta Indeks Ho Chi Minh Vietnam yang menguat
4,22 persen. Bahkan bursa Filipina dan Malaysia yang melemah pun hanya turun
tipis masing-masing sebesar 0,26 persen dan 0,96 persen. Jelas terlihat,
penurunan IHSG terjadi jauh lebih dalam dibandingkan kawasan sejenis.
Dana Asing Lari Besar-besaran
Salah satu pemberat utama yang membuat indeks terus
tertekan adalah hilangnya minat pemodal asing. Menurut data Bursa Efek
Indonesia, total jual bersih yang tercatat mencapai angka fantastis, yaitu
“Rp88 triliun year-to-date di pasar reguler”.
RUU PFII Diseriusi Pemerintah: Langkah Strategis Membawa Indonesia Jadi Pusat Keuangan Global
Arus keluar dana dalam jumlah besar ini menjadi sinyal
penting bagi pelaku pasar. Ketika kepercayaan asing menurun, tekanan jual akan
terus membayangi pergerakan harga saham secara keseluruhan dan membuat indeks
sulit bergerak naik secara berkelanjutan.
Daftar Saham Paling Banyak Dilego
Tekanan jual tidak terjadi merata, melainkan terpusat
pada saham-saham dengan nilai kapitalisasi pasar besar. Berikut adalah 10 saham
yang paling banyak dicatat mengalami jual bersih oleh investor asing selama
Semester I-2026: