SEMARANG, BisnisMarket.com – Maraknya pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran masyarakat akan potensi terjadinya blackout atau pemadaman total. Namun, Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai kondisi yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai blackout.
Direktur Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, menjelaskan bahwa pemadaman yang dilakukan oleh PT PLN (Persero) justru merupakan upaya terukur untuk mencegah kolapsnya sistem kelistrikan secara menyeluruh.
Menurut Deon, dalam operasional sistem kelistrikan, keseimbangan antara pasokan dan konsumsi listrik harus selalu terjaga. Ketika kemampuan pembangkit listrik menurun sementara permintaan listrik tetap tinggi, operator sistem wajib melakukan pengurangan beban melalui pemadaman terbatas di beberapa wilayah.
“Jika permintaan listrik melebihi kemampuan suplai, frekuensi jaringan bisa turun dan berpotensi memicu proteksi otomatis pada infrastruktur listrik. Jika itu terjadi secara berantai, sistem bisa mengalami blackout,” jelasnya.
Deon mengungkapkan bahwa saat ini PLN menghadapi situasi di mana sejumlah pembangkit, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, tidak dapat beroperasi secara optimal akibat gangguan pasokan bahan bakar. Kondisi ini memaksa PLN melakukan manajemen beban secara terbatas demi menjaga stabilitas sistem kelistrikan Jawa-Madura-Bali (Jamali).
Ia juga menyoroti posisi strategis Jawa Tengah dalam sistem kelistrikan terintegrasi Jawa-Bali. Meskipun memiliki pembangkit sendiri, kebutuhan listrik di Jawa Tengah terus meningkat seiring pertumbuhan kawasan industri.
“Jawa Tengah demand listriknya semakin tinggi. Karena sistemnya saling terhubung, maka gangguan pada pembangkitan di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lainnya,” tambah Deon.
Deon menegaskan bahwa blackout merupakan kondisi yang sangat dihindari karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar, baik bagi masyarakat maupun operator listrik. "Listrik mati dalam skala besar bisa menghentikan aktivitas ekonomi. Bagi PLN sendiri, memulihkan pembangkit termal seperti PLTU juga membutuhkan waktu yang lama dan biaya yang besar," katanya.
Sebagai perbandingan, Deon mencontohkan peristiwa blackout di Jawa pada tahun 2019 dan di Sumatera beberapa waktu lalu yang dipicu oleh gangguan transmisi hingga menyebabkan sistem kelistrikan kolaps.