JAKARTA, BisnisMarket.com - Bagi para penabung dan investor emas, pekan ini terasa cukup berat. Logam mulia yang selama ini diandalkan sebagai pelindung nilai aset justru terus meluncur turun, bahkan menuju catatan kerugian mingguan ketiga secara beruntun. Lalu, apa sebenarnya yang sedang terjadi di balik pergerakan harga ini? Apakah ini pertanda emas sudah tak lagi menarik, atau justru membuka peluang baru di masa mendatang?

Tekanan Ganda dari Politik dan Kebijakan Moneter

Dilansir dari Bloomberg Technoz (20/6), harga emas sempat merosot tajam hingga 2,1 persen pada perdagangan Jumat, sebelum terkoreksi sedikit menjadi penurunan 1,3 persen ke posisi US$4.155,71 per ons. Penurunan ini tak lepas dari dua faktor utama yang menjadi sorotan pasar dunia.

Pertama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah justru kembali memanas. Pembicaraan jangka panjang antara Amerika Serikat dan Iran terkait kesepakatan damai dan program nuklir Teheran harus ditunda menyusul meningkatnya pertempuran di wilayah Lebanon selatan. Padahal, ketegangan biasanya menjadi alasan utama investor beralih ke emas sebagai aset aman. Namun kali ini, dinamikanya berjalan lain.

Kedua, pasar mulai mencermati arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Nada tegas yang disampaikan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, terkait upaya pengendalian inflasi membuat pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga.

“Secara historis, emas cenderung berkinerja lebih buruk menjelang kenaikan suku bunga pertama,” ujar Christopher Wong, analis strategi di Oversea-Chinese Banking Corp.

Jalur Minyak Mulai Lancar, tapi Risiko Belum Hilang

Satu kabar yang seharusnya menopang harga emas justru tak mampu menahan tekanan turun tersebut. Kapal-kapal pengangkut minyak yang sebelumnya sempat terhambat sudah mulai melintasi Selat Hormuz setelah disepakatinya perjanjian sementara. Namun, lalu lintas tersebut belum kembali normal sepenuhnya. Iran bahkan menyatakan bahwa setiap kapal yang melintas wajib memiliki izin resmi dari pemerintahnya.

Menurut data dari Badan Energi Internasional (IEA), meski aliran minyak mulai pulih, waktu yang dibutuhkan untuk kembali ke kapasitas penuh bisa memakan waktu berbulan-bulan. Hal ini membuat kekhawatiran soal pasokan energi dan inflasi tetap membayangi pasar.