JAKARTA, BisnisMarket.com - Ketika suku bunga acuan Bank Indonesia naik secara bertahap dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen dalam waktu singkat, dampaknya tidak hanya terasa di sektor perbankan, tapi mulai merambat hingga ke industri teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Langkah ini diambil BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menarik arus modal asing, serta mengendalikan laju inflasi agar tetap berada dalam target nasional.

Dilansir dari Bloomberg Technoz (20/6), kenaikan sebesar total 100 basis poin ini mulai menimbulkan kekhawatiran sekaligus membuka pandangan baru bagi pelaku usaha. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha TIK Nasional (Aptiknas), Fanky Christian, menjelaskan: “Secara langsung belum berdampak, tapi mengakibatkan pelanggan TIK kemungkinan menunda pembelian, siklus penjualan menjadi lebih panjang, pembiayaan TIK jadi lebih mahal. Semua ini bisa menjadi beban ganda untuk industri TIK Indonesia.”

Tekanan Ganda: Bunga Naik dan Rupiah Melemah

Kenaikan suku bunga membuat biaya pendanaan bagi perusahaan menjadi lebih tinggi. Ditambah lagi dengan kondisi nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS, industri yang bersifat padat modal seperti penyedia layanan internet, operator telekomunikasi, dan pengelola pusat data merasakan tekanan dua arah.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Muhammad Arif Angga, menegaskan: “Ketika suku bunga naik dan rupiah melemah secara bersamaan, maka biaya investasi menjadi lebih mahal dan proses perencanaan bisnis harus lebih hati-hati.” Menurut pandangan ekonomi makro yang dikutip dari laporan Bank Indonesia, kebijakan pengetatan moneter memang bertujuan menstabilkan ekonomi, namun efek sampingnya biasanya melambatkan laju investasi jangka pendek.

Di Balik Tantangan, Ada Peluang Menarik

Meski situasi terasa berat, pelaku industri melihat sisi terang. Saat biaya belanja modal (capex) terasa mahal, pelanggan cenderung beralih ke model pengeluaran operasional (opex) yang lebih ringan. Fanky menambahkan: “Ada kemungkinan sisi positifnya juga, karena pelanggan mungkin akan beralih ke model sewa atau opex dibandingkan capex atau investasi.”

Perubahan ini membuka kesempatan bagi penyedia layanan berbasis langganan, komputasi awan (cloud computing), layanan pengelolaan sistem, hingga perangkat lunak berbasis layanan (SaaS). Sementara itu, laporan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan bahwa permintaan konektivitas dan solusi digital di Indonesia masih terus tumbuh, sehingga penyesuaian strategi justru bisa membuat bisnis lebih efisien dan berkelanjutan.

Daripada menghentikan pengembangan, perusahaan kini lebih selektif memilih wilayah pasar yang memiliki permintaan pasti, melakukan efisiensi operasional, serta memperkuat kerja sama antar pelaku usaha. Di tengah ketidakpastian, kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama agar industri teknologi tetap tumbuh dan memberikan manfaat bagi kemajuan ekonomi digital nasional. (*)