JAKARTA, BisnisMarket.com - Optimisme yang sempat melambungkan pasar keuangan dunia seolah tertahan napasnya. Usai sempat bersorak menyambut kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, kini para investor mulai menahan langkah. Ada kabar yang membuat suasana berubah: perundingan untuk mencapai kesepakatan permanen tertunda, dan ketidakpastian pun kembali mengintai.

Dilansir dari Bloomberg Technoz (20/6), saham global mengakhiri pekan yang kuat dengan nada hati-hati. Kelegaan awal perlahan berganti fokus pada tantangan nyata untuk mewujudkan kesepakatan jangka panjang. Di tengah situasi ini, bursa saham Amerika Serikat bahkan libur pada hari itu karena peringatan Juneteenth, membuat pergerakan kontrak berjangka menjadi acuan utama.

Pasar Saham Beralih Hati-hati

Kontrak berjangka S&P 500 tercatat melemah setelah indeks acuan tersebut mencatat pekan terbaiknya sejak akhir Mei. Di Eropa, indeks Stoxx 600 turun 0,2 persen, sementara saham di kawasan Asia terkoreksi 0,3 persen dari posisi rekor tertingginya. Beberapa pasar besar seperti China, Hong Kong, dan Taiwan juga sedang tutup, sehingga transaksi terasa lebih tenang namun penuh kewaspadaan.

Akar Penundaan Negosiasi

Perundingan yang seharusnya digelar Jumat di Swiss terpaksa ditunda. Penyebab utamanya adalah bentrokan semalam antara Israel dan kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran di wilayah Lebanon. Menurut sumber yang mengetahui jalannya perundingan, insiden inilah yang menjadi alasan utama penundaan. Namun, kabar terbaru menyebutkan bahwa kedua pihak telah menyepakati gencatan senjata mulai pukul 16.00 waktu setempat. Iran sendiri menjadikan tercapainya gencatan senjata ini sebagai syarat kelanjutan kesepakatan awalnya dengan AS.

Pergerakan Komoditas dan Mata Uang

Ketidakpastian ini langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent naik 0,9 persen menjadi menembus angka di atas US$80 per barel, sekaligus memangkas penurunan mingguan yang sempat mencapai 7,7 persen hingga hari Kamis. Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat terlihat menurun, sehari setelah melonjak tajam. Pemerintah Teheran juga mengeluarkan pernyataan bahwa setiap kapal yang melintasi jalur strategis tersebut wajib memiliki izin resmi dari Iran.

Di sisi lain, harga emas justru terus tertekan dan menuju kerugian mingguan ketiga beruntun, diperdagangkan di kisaran US$4.150 per ons. Pergerakan obligasi juga berubah; imbal hasil obligasi pemerintah Inggris naik menyusul dinamika politik dalam negerinya.