BISNISMARKET.COM - Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kini menjadi perhatian serius bagi pasar keuangan domestik Indonesia. Konflik yang memanas ini diprediksi akan membawa gelombang guncangan ekonomi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Salah satu dampak paling cepat terlihat adalah potensi kenaikan harga minyak dunia akibat ketidakpastian di kawasan Timur Tengah. Kenaikan harga energi global ini secara langsung mengancam stabilitas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

Kenaikan harga BBM tersebut, jika terjadi, akan memicu efek domino yang mendorong lonjakan angka inflasi di berbagai sektor ekonomi Indonesia. Hal ini menjadi alarm bagi para pembuat kebijakan moneter dan fiskal.

Selain tekanan inflasi, pelemahan nilai tukar Rupiah juga menjadi konsekuensi logis dari memanasnya hubungan antara Iran dan AS tersebut. Investor cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.

Economist CNBC Indonesia, Maesaroh, menyoroti bagaimana kekhawatiran pasar telah tercermin dari pergerakan Dolar Indeks. Penguatan Dolar AS hingga mencapai level 100 mengindikasikan sentimen risk-off yang meluas di kalangan investor.

"Penguatan Dolar Indeks hingga ke level 100 mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak perang dan kembali memborong Dolar AS," ujar Maesaroh.

Dampak dari aksi borong Dolar AS ini menyebabkan mata uang regional Asia ikut tertekan secara masif. "Efeknya Rupiah dan mata uang di Asia anjlok berjamaah," tambah Maesaroh.

Kondisi ini juga membawa implikasi serius terhadap kesehatan fiskal negara melalui pasar surat berharga negara. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi negara, atau Surat Berharga Negara (SBN), diprediksi akan terjadi.

Kenaikan yield SBN tersebut secara otomatis akan meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Hal ini pada akhirnya akan mengancam peningkatan beban utang yang harus ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).