BISNISMARKET.COM - Iran kini memasuki babak baru dalam sejarah kepemimpinannya setelah Majelis Pakar secara resmi menunjuk pengganti mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Sosok yang terpilih adalah Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua dari pemimpin revolusi tersebut.
Penunjukan ini terjadi menyusul wafatnya Ayatollah Khamenei pekan lalu, yang dikabarkan akibat serangan yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Keputusan ini menggarisbawahi konsistensi arah politik Iran yang masih dipegang teguh oleh faksi garis keras.
Majelis Pakar Iran, yang merupakan badan beranggotakan 88 ulama senior, telah menyelesaikan proses pemilihan penerus takhta tersebut. Mojtaba, yang kini berusia 56 tahun, secara resmi diumumkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Langkah ini secara jelas memperlihatkan bahwa faksi konservatif dan garis keras masih memegang kendali penuh atas struktur kekuasaan tertinggi di Republik Islam Iran. Suksesi ini berjalan relatif cepat di tengah situasi geopolitik yang tegang.
Salah satu anggota kunci dari Majelis Pakar Iran memberikan indikasi mengenai kriteria pemilihan yang mendasari keputusan penting ini. Kriteria tersebut tampaknya selaras dengan visi mendiang Pemimpin Tertinggi sebelumnya.
Mohsen Heidari Alekasir, salah satu anggota Majelis Pakar Iran, menyampaikan keterangan penting mengenai pemilihan tersebut dalam sebuah rekaman video. Pernyataan ini memberikan konteks ideologis di balik penunjukan Mojtaba.
"Seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah 'dibenci oleh musuh'," ujar Mohsen Heidari Alekasir. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah video pada Minggu (8/3).
Fokus pada figur yang dibenci oleh musuh—yang dalam konteks Iran sering merujuk pada AS dan Israel—menjadi penanda bahwa garis keras ingin memastikan kepemimpinan yang tidak berkompromi di masa depan.
Kini, perhatian dunia tertuju pada Mojtaba, seorang ulama yang dipersiapkan untuk melanjutkan warisan politik dan ideologis ayahnya di panggung global. Masa depan kebijakan luar negeri Iran akan sangat dipengaruhi oleh figur baru ini.