JAKARTA, BisnisMarket.com - Dunia teknologi kembali diguncang kabar pemangkasan tenaga kerja dalam skala besar. Dua raksasa industri, Meta Platforms dan Microsoft Corp., dikabarkan tengah menyiapkan langkah efisiensi yang dapat memengaruhi nasib sekitar 23.000 pekerja. Keputusan ini bukan tanpa alasan: kedua perusahaan sedang mengalokasikan dana miliaran dolar untuk memperkuat pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan atau AI.

Strategi Pangkas Biaya demi Teknologi Masa Depan

Dilansir dari Bloomberg Technoz (24/4), langkah ini diambil guna “merampingkan biaya operasi dan mengimbangi investasi pengeluaran besar‑besaran di bidang kecerdasan buatan”. Bagi perusahaan teknologi, AI menjadi medan persaingan utama yang menuntut dana tak sedikit, mulai dari pembangunan pusat data, penelitian, hingga pengadaan infrastruktur pendukung. Akibatnya, beban keuangan semakin berat dan efisiensi menjadi kunci untuk tetap kompetitif.

Meta mengambil langkah tegas: perusahaan berencana memangkas sekitar 10 persen tenaga kerja atau setara 8.000 orang, yang akan berlaku mulai 20 Mei mendatang. Tak hanya itu, sebanyak 6.000 posisi kosong juga diputuskan tidak akan diisi kembali. Dalam memo yang disampaikan kepada seluruh karyawan, Janelle Gale selaku Kepala Sumber Daya Manusia Meta menyatakan: “Kami melakukan ini sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjalankan perusahaan secara lebih efisien dan agar kami dapat mengimbangi investasi lain yang kami lakukan.”

Kabar ini pun memicu kecemasan di lingkungan kerja. Gale mengakui situasi ini tidak mudah, namun menegaskan bahwa “kami merasa ini adalah langkah terbaik ke depan, mengingat situasinya”.

Microsoft Pilih Jalur Pensiun Dini

Berbeda pendekatan namun dengan tujuan yang sama, Microsoft menawarkan program pensiun dini sukarela kepada ribuan karyawannya di Amerika Serikat. Berdasarkan data yang beredar, dari 125.000 pekerja yang ada di AS, sekitar 7 persen atau 8.750 orang memenuhi syarat program ini. Syarat utamanya adalah gabungan usia dan masa kerja mencapai 70 tahun atau lebih, dengan pengecualian pada jabatan pimpinan tinggi dan pekerja dalam program insentif penjualan.

Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, “Microsoft belum pernah melakukan program pensiun dini dalam skala sebesar ini sebelumnya”. Kepala Sumber Daya Manusia Microsoft, Amy Coleman, menyampaikan bahwa langkah ini diambil agar perusahaan tetap bergerak cepat dan tangkas menghadapi persaingan: “Untuk mempertahankan kecepatan ini, kita harus tetap fokus pada menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, mempercayai dan memberdayakan para manajer kita, serta menyederhanakan proses untuk mendukung semua orang.”

Antara Investasi dan Dampak Sosial