BISNISMARKET.com - Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025. Kehadirannya di kabinet Presiden Prabowo Subianto langsung menyita perhatian publik, terutama setelah laporan harta kekayaannya terungkap. Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Purbaya tercatat memiliki total kekayaan sekitar Rp39,21 miliar tanpa catatan utang.
Mayoritas hartanya berbentuk tanah dan bangunan di kawasan Jakarta Selatan dengan nilai mencapai puluhan miliar rupiah. Selain itu, Purbaya juga memiliki koleksi kendaraan mewah, di antaranya BMW Jeep 2019, Toyota Alphard 2019, serta Peugeot 5008 2019 dengan nilai keseluruhan mencapai Rp3,6 miliar. Tak hanya itu, ia juga melaporkan kepemilikan harta bergerak lainnya senilai Rp684 juta, surat berharga senilai Rp220 juta, serta kas dan setara kas sekitar Rp4,2 miliar.
Struktur kekayaan ini menunjukkan bahwa Purbaya mengandalkan akumulasi aset properti, kendaraan, dan investasi likuid. Mengingat latar belakangnya yang panjang di dunia keuangan dan jabatan sebelumnya sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), wajar jika ia mampu mengelola aset dengan nilai signifikan.
Meski demikian, publik sempat dihebohkan oleh klaim bahwa Purbaya memiliki “utang senilai Rp0”. Isu ini menimbulkan spekulasi, namun jika menelusuri rincian hartanya, tidak ditemukan catatan resmi terkait kepemilikan lahan hutan dengan nilai nol.
Dugaan ini kemungkinan muncul dari salah tafsir atau informasi yang beredar di media sosial, sebab dalam laporan resmi, seluruh tanah dan bangunan miliknya telah tercatat dengan nilai yang jelas.
Pelantikan Purbaya sekaligus menandai perombakan kabinet kedua di era Presiden Prabowo. Tugas besar kini menantinya: menjaga stabilitas fiskal, mengelola APBN, serta menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
Di tengah sorotan publik terhadap transparansi pejabat negara, Purbaya Yudhi Sadewa harus membuktikan dirinya mampu menjaga kepercayaan masyarakat bukan hanya lewat kinerja, tetapi juga melalui keterbukaan terhadap asal-usul kekayaannya.***