JAKARTA, BisnisMarket.com -
Di tengah suasana dunia yang dipenuhi ketidakpastian, ternyata pasar keuangan
global menemukan kekuatan baru dari sektor yang tak pernah surut peminatnya.
Ketika ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas,
justru saham-saham teknologi dan produsen chip menjadi penyelamat yang
mengangkat kinerja bursa Wall Street.
Mengapa pasar bisa tetap tenang di tengah risiko yang
terlihat jelas? Jawabannya terletak pada satu kata yang terus mengubah peta
investasi dunia: kecerdasan buatan.
Teknologi Chip Melesat Didorong Permintaan
AI
Pergerakan positif ini terlihat nyata pada indeks
utama bursa AS. Indeks Nasdaq 100 tercatat naik sebesar 1,6 persen, sedangkan
indeks saham perusahaan semikonduktor bahkan melonjak tajam hingga 3,1 persen.
Semangat ini didukung oleh langkah strategis raksasa industri.
Micron Technology Inc. dikabarkan akan meningkatkan
nilai investasinya untuk pembangunan pabrik baru di Amerika Serikat menjadi
sebesar 250 miliar dolar AS. Langkah ini diambil guna memenuhi lonjakan
permintaan yang terus meningkat akibat pesatnya pengembangan dan penerapan
kecerdasan buatan.
Sementara itu, antusiasme investor juga terlihat dari
pencatatan saham SK Hynix Inc. di pasar AS. "Pencatatan saham SK Hynix
Inc. di Amerika Serikat dilaporkan mengalami kelebihan permintaan lebih dari
tujuh kali lipat, menegaskan kuatnya minat investor terhadap produsen chip asal
Korea Selatan tersebut," dikutip dari laporan yang dilansir dari Bloomberg
Technoz (10/7).
Optimisme Berbalik Keraguan?
Meskipun kinerja sektor semikonduktor baru saja
mencatatkan kuartal terbaik sepanjang sejarah, angin keraguan mulai berhembus
di kalangan pelaku pasar. Persaingan yang semakin ketat, potensi kelebihan
kapasitas produksi, serta hasil nyata dari investasi bernilai triliunan rupiah
menjadi pertanyaan yang terus mengemuka.
Namun, pasar tampaknya masih percaya diri. Ketika AS
dan Iran saling melancarkan serangan udara, reaksi pasar justru terukur.
Menurut Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman & Co., pasar memandang
serangan tersebut sebagai bagian dari eskalasi yang masih terkendali, dengan
asumsi bahwa perekonomian global masih mampu menyerap dampaknya.