BISNISMARKET.COM - Kementerian Perdagangan (Kemendag) baru-baru ini merilis data mengenai performa neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei tahun 2026. Data tersebut menunjukkan adanya defisit yang cukup signifikan pada neraca perdagangan nasional.

Defisit yang tercatat pada periode tersebut mencapai angka substansial, yakni sebesar US$1,61 miliar. Angka ini menjadi sorotan utama dalam evaluasi kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada pertengahan tahun 2026.

Penyebab utama dari defisit neraca perdagangan ini telah diidentifikasi secara spesifik oleh pihak kementerian. Faktor pendorong utamanya adalah adanya kenaikan tajam dalam harga minyak mentah di pasar global.

Defisit ini secara spesifik terkonsentrasi pada sektor energi dan sumber daya alam, atau yang dikenal sebagai sektor migas. Kenaikan harga komoditas energi global secara langsung memengaruhi nilai impor Indonesia.

Meskipun demikian, terdapat catatan positif dari sektor perdagangan nonmigas. Sektor ini berhasil menunjukkan kinerja yang sangat kuat dan dicatat mengalami surplus pada periode yang sama.

Kinerja positif di sektor nonmigas ini menjadi penyeimbang penting dalam keseluruhan neraca perdagangan Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa struktur ekonomi Indonesia memiliki ketahanan di luar ketergantungan pada komoditas energi.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, memberikan pandangan mengenai kondisi fundamental perdagangan Indonesia pasca rilis data tersebut. Beliau menekankan bahwa situasi secara keseluruhan masih terkendali.

"Secara fundamental, kondisi perdagangan Indonesia tetap kuat karena surplus yang dicatatkan oleh sektor nonmigas," ujar Budi Santoso. Pernyataan ini memperkuat optimisme terhadap daya tahan perekonomian nasional.

Lebih lanjut, Menteri Santoso juga menekankan bahwa surplus dari sektor nonmigas ini menjadi bukti nyata. Hal ini menunjukkan bahwa daya tahan struktur perdagangan Indonesia masih sangat baik di luar komoditas energi, kata beliau.