JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang kian meningkat akibat gejolak politik dan kenaikan harga barang, kawasan Asia Tenggara harus bersiap menghadapi laju pertumbuhan yang melambat. Namun, di tengah tekanan itu, Indonesia menunjukkan ketangguhan yang menarik perhatian lembaga keuangan internasional. Seberapa kuat fondasi ekonomi kita bertahan melawan gejolak global?

Revisi Proyeksi untuk Kawasan ASEAN

Dilansir dari Bloomberg Technoz (9/7), Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN menjadi 4,5 persen, turun sedikit dari angka sebelumnya sebesar 4,6 persen. Sementara itu, untuk kelompok negara berkembang di Asia Tenggara, proyeksi pertumbuhan pada tahun 2026 juga dikoreksi turun menjadi 4,6 persen, sedangkan perkiraan tahun 2027 tetap dijaga di level 4,8 persen.

Menurut laporan ADB, penyebab utama penyesuaian ini adalah konflik di Timur Tengah yang telah melemahkan permintaan pasar luar negeri, meningkatkan risiko ketidakpastian global, mengganggu alur rantai pasokan, serta mendorong kenaikan biaya produksi dan harga komoditas dunia. Dampaknya terasa tidak merata; misalnya Filipina mengalami penurunan perkiraan pertumbuhan akibat investasi yang tertunda dan daya beli masyarakat yang melemah.

Indonesia Tetap di Jalur Pertumbuhan

Berbeda dengan sejumlah negara tetangga, prospek ekonomi Indonesia dinilai tetap kokoh. “Prospek ekonomi Indonesia tetap stabil, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi tidak berubah di level 5,2 persen pada 2026 dan 5,2 persen pada 2027,” ungkap ADB dalam laporan resminya. Stabilitas ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional, serta belanja pemerintah yang terus berjalan untuk mendorong pembangunan infrastruktur.

Sebagai tambahan, merujuk pada analisis lembaga penelitian ekonomi seperti Center of Reform on Economics (CORE Indonesia), ketahanan ekonomi RI juga diperkuat oleh posisi neraca perdagangan yang masih surplus dan cadangan devisa yang cukup memadai, sehingga mampu menyerap guncangan dari luar negeri.

Tekanan Inflasi yang Perlu Diwaspadai

Meskipun pertumbuhan tetap terjaga, ADB mengingatkan adanya tantangan baru dari sisi harga barang. Proyeksi inflasi Indonesia untuk tahun 2026 dinaikkan sebesar 0,5 poin persentase menjadi 3,0 persen. Di tingkat kawasan, angka inflasi diperkirakan melonjak tajam menjadi 3,9 persen tahun ini dari perkiraan awal 3,2 persen.