JAKARTA, BisnisMarket.com -
Ada hal unik yang terjadi di dunia pertambangan Indonesia saat ini. Produksi
dikabarkan menurun tajam, namun pendapatan negara justru terjaga aman.
Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Apakah ini strategi cerdas atau justru tanda
bahaya besar yang sedang mengintai? Semua jawabannya akan terungkap lewat
revisi aturan penting yang dibuka mulai bulan depan.
Dilansir dari Bloomberg Technoz diakses pada (5/6),
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi mengumumkan bahwa
proses revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 akan dimulai
pada Juli mendatang, dengan batas akhir pengajuan tepat di tanggal 31 Juli
2026. Kebijakan RKAB 2026 ini menjadi sangat krusial karena nantinya jumlah kuota
produksi yang disetujui akan sangat bergantung pada seberapa besar potensi
penerimaan negara yang bisa didapatkan.
Produksi Turun, Pendapatan Tetap Kokoh
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno,
memberikan gambaran jelas kondisi hingga 15 Mei 2026. Tercatat produksi batu
bara memang menurun, namun di saat yang sama harga komoditas ini justru sedang
mengalami kenaikan signifikan. Hal inilah yang membuat nilai penerimaan negara
tetap stabil dan aman, meski jumlah barang yang dihasilkan berkurang.
“Tapi poin yang kita sampaikan kan kita akan menjual
mineral dan batu bara sesuai dengan harga yang seharusnya, kira-kira gitu.
Jangan juga obral terlalu murah, tapi jangan juga sampai kebutuhan kita
terganggu, kira-kira gitu,” tegas Tri Winarno, menjelaskan prinsip utama yang
dipegang pemerintah.
Data nyata menunjukkan, kuota batu bara tahun ini
ditetapkan sekitar 600 juta ton, jauh lebih rendah dibanding capaian tahun 2025
yang mencapai 817,48 juta ton. Hingga April lalu, baru 229 juta ton atau 38,2
persen yang terealisasi, di mana 145 juta tonnya untuk ekspor dan sisanya
memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Sama halnya dengan nikel, kuota tahun
ini dipangkas menjadi 260-270 juta ton dari sebelumnya 320 juta ton.
Bahaya PHK Massal Mengancam
Di balik strategi menjaga harga dan pendapatan, ada
ancaman nyata yang mengintai ribuan pekerja. Salah satu contoh paling nyata
terjadi di PT Weda Bay Nickel (WBN), bagian dari Eramet Indonesia. Kuota
produksi mereka sebesar 12 juta ton ternyata sudah habis ditambang pada akhir
Mei 2026 lalu, sehingga tambang terpaksa ditutup sementara untuk perawatan.
Menurut CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet,
dampaknya sangat mengerikan. “Jelas sebuah tambang bekerja dengan banyak
kontraktor. Jadi jika Anda melihat jumlah orang yang kami pekerjakan untuk Weda
Bay Nickel di akhir Desember, itu mendekati 18.000 orang, akhir 2025. Tahap
care and maintenance akan membuat jumlah orang kami harus menguranginya sebesar
65 persen,” ungkapnya.