BISNISMARKET.COM - Seorang anggota parlemen Israel mengungkap perspektif mengejutkan mengenai dasar serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak 28 Februari lalu. Ofer Cassif, anggota parlemen dari partai Hadash, menyatakan bahwa narasi seputar ancaman nuklir Iran hanyalah kedok. Menurutnya, pendorong utama di balik eskalasi militer tersebut bukanlah isu keamanan, melainkan kalkulasi politik semata.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh laman Rusia RT, Cassif, yang merupakan satu-satunya anggota Yahudi di partainya yang mayoritas Arab, secara terbuka menentang tindakan militer tersebut. Ia memberikan penilaian tajam terhadap motivasi, waktu pelaksanaan, serta arah potensial dari konflik yang sedang berlangsung. Ia mengklaim bahwa akar permasalahan agresi ini bersumber dari kepentingan politik dan ekonomi pemerintah Israel dan pemerintahan Donald Trump kala itu.

Cassif merujuk pada pernyataan Perdana Menteri Israel Netanyahu pada Juni, pasca serangan pertama yang didukung AS, di mana Netanyahu mengklaim telah "meraih kemenangan bersejarah... melenyapkan proyek nuklir Iran dan industri rudalnya." Anggota parlemen ini menegaskan bahwa klaim tersebut tidak relevan dengan ancaman nyata, meskipun ia sendiri secara pribadi menentang keras rezim Iran.

Ia berargumen bahwa isu ini sepenuhnya berkaitan dengan kepentingan finansial dan kekuasaan, termasuk kepentingan pribadi Netanyahu yang ingin mengadakan pemilihan umum lebih awal. Netanyahu berupaya menampilkan dirinya sebagai penyelamat kawasan di mata publik Israel, sekaligus menghindari jeratan hukum terkait skandal yang melilitnya dan keluarganya.

Menurut pandangan Cassif, Netanyahu sangat khawatir akan konsekuensi hukum yang menantinya begitu ia kehilangan posisi politiknya. Kekhawatiran akan segera dipenjara menjadi salah satu pendorong utama di balik retorika kerasnya mengenai penyelamatan dunia dari radikalisme. Ia juga menyoroti bahwa fanatisme Zionis religius di Israel atau evangelis fanatik di AS sama problematiknya dengan Islam fanatik.

Sementara itu, isu mengenai Presiden Trump juga disorot, terutama terkait keinginannya menunda pemilihan sela AS yang seharusnya digelar Oktober, yang berpotensi diundur hingga Juni 2026. Cassif menyatakan bahwa waktu pelaksanaan agresi ini sangat menguntungkan kepentingan elektoral pribadi kedua pemimpin tersebut menjelang periode pemilihan.

Kesimpulan dari analisis Cassif adalah bahwa kunci untuk mengakhiri konflik ini berada di tangan publik Amerika Serikat. Jika warga Amerika, yang berdasarkan jajak pendapat menentang perang, turun ke jalanan dan memberikan tekanan kuat pada Trump, sang Presiden mungkin akan menghentikan agresi demi kepentingannya sendiri.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Cnbcindonesia. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.