JAKARTA, BisnisMarket.com - Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak cepat, sebuah pernyataan menarik dari adik kandung Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo mendadak menyita perhatian publik. Bukan sekadar pernyataan biasa, melainkan pengakuan yang membuka tabir lama mengenai lahirnya sebuah gagasan strategis yang kini kembali diperbincangkan.

Isu ini bukan hanya relevan secara politik, tetapi juga menyentuh aspek perencanaan dan strategi ekonomi dan visi jangka panjang yang selama ini jarang terungkap ke publik. Pernyataan tersebut seolah menjadi potongan puzzle yang melengkapi narasi besar perjalanan sebuah ide.

Jejak Awal Sebuah Gagasan

Hashim mengungkapkan bahwa ide mengenai Makan Bergizi Gratis (MBG) sebenarnya telah muncul jauh sebelum berdirinya Partai Gerindra. Hal ini menandakan bahwa gagasan tersebut bukanlah produk instan atau reaksi terhadap situasi politik tertentu, melainkan hasil pemikiran panjang yang telah dirancang sejak awal.

Dalam konteks ini, MBG dapat dipahami sebagai bagian dari visi yang lebih luas merupakan sebuah pendekatan strategis yang tidak hanya berorientasi pada politik kekuasaan, tetapi juga pada pembangunan ekonomi nasional.

Dilansir dari Kompas.com (20/4), Hashim menyampaikan, “Stunting ini adalah yang menyebabkan Prabowo Subianto pada tahun 2006 mencetuskan ide untuk program MBG ini. Ini 2006, berarti 20 tahun lalu, Pak Prabowo waktu itu belum ada partai, belum ada Partai Gerindra. Belum ada imajinasi, belum ada khayalan untuk mendirikan partai,” ujar Hashim dalam acara ABPEDNAS di Hotel Fairmont, Jakarta, Minggu (19/4/2026) malam.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa ide MBG lahir dari kepedulian terhadap persoalan mendasar bangsa, bukan sekadar strategi politik jangka pendek.

Antara Idealisme dan Realitas Politik

Pernyataan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas: sejauh mana ide-ide besar mampu bertahan dan berkembang di tengah dinamika politik yang sering kali pragmatis? Apakah gagasan seperti MBG benar-benar menjadi fondasi kebijakan, atau hanya menjadi narasi pendukung?