BISNISMARKET.COM - Kawasan strategis Selat Hormuz kini tengah dilanda penurunan aktivitas pelayaran yang signifikan. Situasi ini timbul menyusul pemberlakuan kebijakan blokade oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mulai efektif.

Penurunan tajam pada lalu lintas kapal ini dilaporkan terjadi setelah serangkaian serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Keputusan Teheran untuk menerapkan larangan menyeluruh terhadap pergerakan maritim menjadi salah satu faktor utama.

Peristiwa ini secara khusus disorot oleh CNBC International pada Selasa, 21 Juli 2026. Pemberitaan tersebut menyoroti dampak langsung dari ketegangan geopolitik yang kian memanas di kawasan tersebut.

Menyahuti situasi yang memanas, Iran mengambil langkah tegas dengan memberlakukan larangan menyeluruh terhadap lalu lintas maritim. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap eskalasi konflik yang terjadi.

Ditambah lagi dengan serangan baru yang menyasar kapal-kapal komersial, para operator pelayaran kini tengah melakukan evaluasi ulang terhadap risiko yang mereka hadapi. Melintasi kawasan Teluk menjadi pertimbangan serius bagi mereka.

"Keputusan Teheran untuk memberlakukan larangan menyeluruh terhadap lalu lintas maritim, ditambah serangan baru terhadap kapal komersial, mendorong operator pelayaran untuk mengevaluasi ulang risiko saat melintasi kawasan Teluk," demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari CNBC International.

Situasi ini secara inheren memicu kekhawatiran baru mengenai kelancaran pasokan energi global. Stabilitas pasokan minyak dunia yang sangat bergantung pada jalur laut ini kini terancam.

Dikutip dari CNBC International, penurunan aktivitas pelayaran ini terjadi menyusul serangkaian serangan AS terhadap Iran, yang semakin memperkeruh suasana di kawasan penting tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia untuk distribusi minyak mentah. Setiap hambatan di jalur ini berpotensi menimbulkan gejolak pada harga energi internasional.