BISNISMARKET.COM - Pemerintah Republik Indonesia tengah menggalakkan strategi ganda untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang diprediksi memuncak pada tahun 2026. Tekanan ini terutama berasal dari eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah manuver militer antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan Iran. Jakarta menyadari betul bahwa gejolak regional tersebut memiliki potensi signifikan untuk mengganggu neraca perdagangan dan stabilitas energi global.

Sekretaris Kemenko Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, menegaskan bahwa pemerintah telah menyusun mekanisme pemantauan ketat guna mengantisipasi dampak negatif dari tensi yang memanas di kawasan Timur Tengah tersebut. Fokus utama dari antisipasi ini adalah memitigasi risiko lonjakan harga minyak mentah dunia serta potensi disrupsi serius pada jalur logistik internasional. Langkah antisipatif ini krusial untuk melindungi perekonomian nasional dari guncangan eksternal.

Di tengah volatilitas geopolitik yang terjadi, Indonesia secara agresif mengarahkan upaya menarik investasi, baik dari investor domestik maupun asing, yang menitikberatkan pada sektor industri dengan nilai tambah tinggi. Selain itu, pengembangan infrastruktur strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) terus dioptimalkan. KEK ini dirancang khusus untuk memberikan berbagai insentif, baik fiskal maupun non-fiskal, guna meningkatkan daya tarik investasi.

Untuk memperkuat daya saing investasi di KEK, inovasi kebijakan terus dilakukan melalui penguatan kemitraan internasional, salah satunya melalui kesepakatan dagang strategis. Perjanjian seperti IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement) menjadi instrumen vital. Keberhasilan implementasi perjanjian ini diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk hasil hilirisasi industri Indonesia yang beroperasi di KEK.

Upaya peningkatan kinerja ekspor nasional juga sejalan dengan agenda hilirisasi yang sedang digenjot pemerintah di tengah memanasnya situasi perang di Timur Tengah. Prioritas diarahkan pada sektor-sektor masa depan yang sedang berkembang pesat, meliputi energi bersih, kemajuan teknologi, serta infrastruktur ekonomi digital seperti pembangunan pusat data (Data Center).

Dalam rangka menarik modal asing, Indonesia menawarkan serangkaian keunggulan komparatif yang jelas kepada para calon investor. Keunggulan tersebut mencakup kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan potensi hilirisasi yang besar, didukung oleh pasar domestik yang sangat luas serta bonus demografi yang mendukung ketersediaan tenaga kerja. Selain itu, skema perdagangan bilateral dengan banyak negara turut menjadi daya tarik tambahan.

Seluruh upaya strategis ini dibahas secara mendalam oleh Andi Shalini bersama Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, dalam program Profit CNBC Indonesia pada hari Jum'at (06/03/2026). Dialog tersebut mengupas tuntas langkah konkret dan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengamankan investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Cnbcindonesia. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.