BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah mengoptimalkan peluang ekspor dengan Amerika Serikat (AS), yang kini menjadi salah satu tujuan utama dengan surplus terbesar bagi Indonesia. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan bahwa upaya ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pasar ekspor di luar mitra tradisional. Fokus utama adalah memperkuat hubungan dagang dengan AS melalui mekanisme yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Langkah konkret diambil melalui implementasi Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau perjanjian perdagangan timbal balik antara kedua negara. Dalam kerangka perjanjian ini, Indonesia mengajukan permohonan pengecualian tarif khusus untuk sejumlah komoditas unggulan. Permintaan ini mencakup 1.819 kelompok barang yang diharapkan dapat menikmati tarif impor nol persen ketika masuk ke pasar Amerika Serikat.
Salah satu sektor yang paling diuntungkan dari kebijakan ini adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk produk garmen nasional. Dengan adanya pembebasan tarif, daya saing produk garmen Indonesia di pasar AS diprediksi akan meningkat secara signifikan. Hal ini membuka prospek cerah bagi peningkatan volume ekspor produk manufaktur unggulan Indonesia ke negara adidaya tersebut.
Selain fokus pada sektor garmen, tercatat pula kesepakatan penting di sektor energi antara kedua negara senilai USD 15 Miliar. Kesepakatan ini memungkinkan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan impor vital seperti minyak mentah dan LPG dari Amerika Serikat. Kepastian pasokan energi ini menjadi sangat krusial dalam menghadapi ketidakpastian suplai global, terutama yang berasal dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, upaya pemerintah tidak hanya tertuju pada ekspor, tetapi juga pada penarikan investasi domestik dan asing. Sebanyak 25 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) telah berhasil menarik realisasi investasi melebihi Rp 336 Triliun. Investasi ini secara langsung berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja baru, dengan target pembukaan 250.000 posisi pekerjaan.
Kinerja KEK manufaktur menunjukkan peran dominan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional saat ini. Beberapa KEK yang memimpin meliputi KEK Gresik, KEK Kendal, KEK Galang Batang, dan KEK Sei Mangke. Hal ini menegaskan keberhasilan strategi pemerintah dalam mengembangkan klaster industri berbasis lokasi strategis.
Informasi mendalam mengenai strategi perluasan pasar ekspor dan perkembangan KEK ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Kemenko Perekonomian RI. Pemaparan lengkap dapat disimak melalui dialog antara Andi Shalini dengan Susiwijono Moegiarso dalam program Profit CNBC Indonesia pada hari Jum'at, 06 Maret 2026.