JAKARTA, BisnisMarket.com -
Apakah kamu pernah percaya kalau Bitcoin bisa jadi tameng agar uangmu tidak
makin tak berharga saat harga-harga naik? Banyak yang yakin, tapi kenyataan
berbicara lain. Saat inflasi kembali mengancam, mata uang kripto terbesar ini
malah terjun bebas, membuat jutaan pemegangnya terpukul hebat. Apa yang
sebenarnya terjadi?
Dijuluki "emas digital" karena jumlahnya
terbatas dan diharapkan mampu menahan gempuran kenaikan harga, Bitcoin kini
justru membuktikan sebaliknya. Dilansir dari Bloomberg Technoz (3/6/2026),
nilai Bitcoin telah merosot tajam hingga 36 persen dalam satu tahun terakhir,
bahkan sempat tembus di bawah angka Rp1.043 miliar atau setara US$70.000,
hingga menyentuh level terendah sejak tahun 2025, yakni di kisaran Rp1,36
miliar.
Janji Indah yang Kandas
Sejak awal kemunculannya, para pendukung Bitcoin
selalu menekankan satu keunggulan utama: jumlah pasokan yang hanya ada 21 juta
koin, tidak bisa dicetak lebih banyak seperti uang kertas biasa. Teorinya,
ketika uang kertas makin banyak beredar dan nilainya turun, kelangkaan Bitcoin
akan membuat nilainya tetap terjaga, bahkan naik. "Para pendukung
berpendapat bahwa kelangkaan akan menjadikan token tersebut sebagai setara
digital dari emas ketika inflasi meningkat," tulis laporan tersebut.
Namun, teori indah ini hancur lebur saat diuji nyata.
Saat inflasi kembali menanjak terpicu lonjakan kebutuhan listrik industri
kecerdasan buatan yang menaikkan biaya energi yang seharusnya Bitcoin jadi
incaran utama. Faktanya, ia malah bergerak berlawanan arah, ikut terjun bebas
saat harga-harga barang naik.
"Jika Anda menambahkan Bitcoin ke portofolio Anda
dengan berpikir itu adalah lindung nilai inflasi jangka pendek, saya pikir Anda
perlu mengevaluasinya kembali," ungkap Cam Harvey, direktur riset Research
Affiliates dan profesor keuangan Universitas Duke, seperti dikutip dalam berita
tersebut. Menurutnya, ketidakpastiannya terlalu tinggi, sering bikin kecewa.
Bukan cuma turun harga, jika dihitung dengan
penyesuaian inflasi, para pemegang Bitcoin sebenarnya sudah rugi sekitar 39
persen dari nilai aslinya. Artinya, uang yang kamu simpan di sana bukan cuma
tidak terlindungi, tapi makin lama makin berkurang nilainya, jauh lebih parah
daripada kenaikan harga barang sehari-hari.
Bukan Aset Aman, Malah Risiko Tinggi
Kenapa ini bisa terjadi? Penyebab utamanya jelas
terlihat: investor besar mulai menarik dana dari produk investasi Bitcoin
(ETF), ketegangan dunia bikin orang lari ke aset aman seperti emas atau
obligasi, dan pasar kini mulai menilai Bitcoin bukan lagi sebagai pelindung,
tapi sekadar aset berisiko tinggi.