BISNIS MARKET - Sektor keamanan digital di Indonesia mengalami pukulan berat akibat maraknya praktik penipuan atau scam, dengan total kerugian mencapai Rp7 triliun. Data ini mencerminkan peningkatan signifikan ancaman siber yang menargetkan masyarakat melalui berbagai modus di ranah digital.

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian tersebut berasal dari laporan korban yang masuk ke Indonesia Anti-Scam Center (IASC), pusat pengaduan yang dibentuk pada 22 November 2024. Hingga Oktober 2025, IASC telah menerima 299.237 laporan, dengan 487.378 rekening dilaporkan dan 94.344 rekening berhasil diblokir, menyelamatkan dana hingga Rp376,8 miliar.

Modus penipuan yang paling umum meliputi scam transaksi belanja online, panggilan palsu mengaku dari pihak berwenang, investasi bodong, tawaran kerja fiktif, hadiah palsu, serta phishing melalui media sosial dan file APK berbahaya via WhatsApp. 

"Kami masih bekerja keras untuk mempercepat penanganan agar dana masyarakat bisa diselamatkan lebih banyak lagi," kata Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, dalam keteranganya, baru-baru ini.

Peningkatan kasus ini sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital di Indonesia, di mana penipuan siber kini terjadi sekitar 800 kasus per hari. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, menambahkan, "Angka kerugian ini bukan hanya statistik, tapi peringatan bagi kita semua untuk bertindak cepat melalui kolaborasi pemerintah, swasta, dan masyarakat."

Sektor keamanan digital yang terdampak termasuk perbankan, fintech, dan e-commerce, di mana AI mulai dimanfaatkan untuk mendeteksi ancaman dini. Namun, tantangan utama adalah rendahnya literasi digital, yang membuat masyarakat rentan terhadap social engineering dan serangan berbasis kecerdasan buatan.

Pemerintah melalui IASC dan Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti) terus memperkuat mekanisme pelaporan via https://iasc.ojk.go.id. Meutya Hafid, Menteri Komdigi, menekankan, "Kami akan memutus akses situs scam dan mendorong partisipasi masyarakat untuk melaporkan segera, sesuai arahan Presiden," ujar Meutya di Jakarta.

Upaya pencegahan ini diharapkan dapat mengurangi kerugian di masa depan, dengan target kontribusi ekonomi digital mencapai 19% pada 2045. Namun, tanpa peningkatan kesadaran kolektif, sektor keamanan digital berisiko mengalami kerugian yang lebih besar.