BISNISMARKET.COM - Sejarah mencatat kisah mengerikan tentang para pemimpin kelompok yang berakhir tragis setelah digulingkan dari kekuasaan mereka. Mereka dikurung di dalam menara hingga jasad mereka hanya menyisakan tulang belulang.

Peristiwa mengerikan ini berpusat di kota Münster, yang pada masa itu merupakan bagian dari wilayah Jerman Barat. Kisah ini menjadi salah satu babak gelap dalam sejarah reformasi agama di Eropa.

Pada tahun 1533, kota Münster mengalami perubahan signifikan dalam lanskap keagamaan. Kekuasaan bergeser dari dominasi Kristen Katolik menuju aliran Kristen Protestan Lutheran.

Pergeseran kekuasaan ini terjadi di bawah arahan seorang pendeta bernama Bernhard Rothman. Ia menjadi figur sentral dalam memimpin transisi teologis di wilayah tersebut.

Dilansir dari laman perpustakaan Cambridge University Press, Pangeran-uskup Franz von Waldeck sempat mengambil langkah toleran. Ia membiarkan pertumbuhan komunitas Kristen Protestan ini demi menjaga stabilitas dan perdamaian.

Namun, situasi kemudian berubah drastis seiring munculnya sebuah gerakan reformasi yang jauh lebih radikal. Gerakan ini menantang doktrin-doktrin yang sudah mapan pada masa itu.

Gerakan radikal tersebut dikenal sebagai Anabaptis, yang menekankan perlunya pembaptisan bagi orang dewasa, bukan lagi ritual pembaptisan bayi. Aliran ini mulai mendapatkan pengikut yang signifikan di Münster.

Gerakan Anabaptis ini dipimpin oleh seorang tokoh karismatik bernama Jan Matthys. Kepemimpinannya membawa gerakan tersebut menuju konfrontasi yang berujung pada tragedi.

"Pada tahun 1533, kota ini mengalami pergeseran dari kekuasaan dari kekuasaan Kristen Katolik ke Kristen Protestan Lutheran di bawah kepemimpinan pendeta Bernhard Rothman," demikian informasi yang ditemukan dilansir dari laman perpustakaan Cambridge University Press.