BISNISMARKET.COM - Tragedi ambruknya mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, menyisakan duka yang mendalam sekaligus memunculkan berbagai pertanyaan publik. Di balik upaya evakuasi korban, petugas menemukan sebuah mobil mewah berjenis Mercedes-Benz dalam kondisi ringsek di antara puing-puing bangunan yang roboh. Temuan mobil ini sontak memicu sorotan terhadap sosok pengasuh pesantren dan isu kekayaan di lingkungan lembaga keagamaan yang selama ini dikenal sederhana.

Mobil mewah berwarna hitam itu ditemukan di sisi timur bangunan mushala Al-Khoziny yang ambruk pada Senin, 29 September 2025. Proses evakuasinya memakan waktu cukup lama karena mobil tertimbun reruntuhan beton yang tebal. Petugas gabungan dari berbagai instansi menggunakan alat berat untuk mengangkat kendaraan yang hampir tidak berbentuk itu. Setelah berhasil dievakuasi, mobil langsung dipindahkan ke lokasi aman untuk keperluan penyelidikan lebih lanjut.

Meski telah diamankan, kepemilikan mobil Mercy tersebut hingga kini masih belum dikonfirmasi secara resmi. Beberapa warga sekitar menyebut mobil itu kerap terlihat terparkir di dekat rumah pengasuh pesantren, namun belum ada pernyataan pasti dari pihak pesantren ataupun aparat terkait pemilik sebenarnya. Hal ini pun memunculkan beragam spekulasi di kalangan masyarakat.

Berbagai pihak menyebut bahwa mobil mewah itu baru dibeli beberapa minggu sebelum insiden terjadi. Dugaan ini semakin memperbesar sorotan publik terhadap pengasuh Ponpes Al-Khoziny, mengingat pesantren tersebut dikenal sebagai lembaga keagamaan yang mengedepankan kesederhanaan dan kemandirian santri. Publik menilai, kemunculan aset mewah di lingkungan pesantren harus disertai dengan transparansi, terutama bila dana pembangunan berasal dari sumbangan masyarakat.

Warganet dan masyarakat luas menuntut kejelasan mengenai sumber dana serta status kepemilikan mobil tersebut. Tak sedikit yang berharap agar aparat penegak hukum memeriksa data registrasi kendaraan dan aliran dana pesantren untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan keuangan atau pelanggaran administratif.


Sosok Pengasuh Ponpes Al-Khoziny
Sosok yang kini menjadi perhatian publik adalah KH. R. Abdus Salam Mujib, pengasuh sekaligus penerus Ponpes Al-Khoziny. Ia merupakan generasi ketiga dari keluarga pendiri pesantren yang berdiri sejak 1920-an oleh KH. Raden Khozin Hauruddin. Setelah sang pendiri wafat, kepemimpinan pesantren diteruskan oleh putranya, KH. Abbas, lalu dilanjutkan oleh KH. Abdul Mujib Abbas, dan kini berada di tangan KH. R. Abdus Salam Mujib.

KH. R. Abdus Salam Mujib dikenal luas sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Sidoarjo dan sempat menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Sidoarjo. Latar belakangnya yang kuat dalam pendidikan agama dan jaringan luas di kalangan ulama menjadikannya figur sentral dalam pembinaan keagamaan di daerah tersebut. Di bawah kepemimpinannya, Ponpes Al-Khoziny berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Al-Qur’an dan keislaman di Jawa Timur, dengan ribuan santri yang pernah menimba ilmu di sana.

Dalam penjelasannya kepada pihak berwenang, pengasuh pesantren menuturkan bahwa proses pembangunan mushala yang ambruk sudah berlangsung sekitar sembilan bulan. Pada saat kejadian, para santri tengah melaksanakan salat Asar berjamaah di lantai dua, sementara bagian atap lantai tiga baru saja selesai dicor. Diduga, beban berat dari pengecoran tersebut menjadi pemicu utama robohnya bangunan.

Meski demikian, investigasi lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut. Tim gabungan dari kepolisian, BPBD, dan lembaga teknis lain telah meninjau lokasi untuk menilai kekuatan struktur bangunan serta kemungkinan adanya pelanggaran izin konstruksi.