BISNISMARKET.COM - Rupiah Indonesia kembali mengalami tekanan signifikan pada awal perdagangan hari Rabu, 24 Juni 2026. Pelemahan mata uang Garuda ini terlihat jelas terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tren penguatan di pasar global.

Pergerakan ini menempatkan nilai tukar rupiah berada di zona merah, melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak hari sebelumnya. Tekanan ini dipicu oleh dinamika pasar internasional yang cenderung menguntungkan dolar AS.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, pada saat pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah tercatat berada di posisi Rp17.900 untuk setiap dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,36% dari penutupan sebelumnya.

Pelemahan 0,36% ini merupakan kelanjutan dari tren negatif yang telah terjadi pada hari Selasa, 23 Juni 2026. Pada hari sebelumnya, rupiah tercatat telah melemah 0,06% dengan posisi penutupan di level Rp17.835 per dolar AS.

Sementara itu, kekuatan dolar AS diukur melalui indeks dolar (DXY) yang juga menunjukkan kenaikan tipis. Indeks DXY terpantau menguat sebesar 0,03% dan berada pada level 101,432 per pukul 09.00 WIB.

Level 101,432 tersebut mengukuhkan posisi indeks dolar AS sebagai yang terkuat dalam rentang waktu 13 bulan terakhir. Penguatan DXY ini menjadi faktor utama yang memberikan tekanan bearish pada mata uang Garuda.

Dikutip dari JAKARTAHYPE.COM, mata uang Garuda ini tercatat berada di zona merah akibat dinamika pergerakan dolar AS yang semakin kuat di pasar global. Hal ini menunjukkan adanya sentimen global yang mendukung mata uang safe haven tersebut.

Dilansir dari JAKARTAHYPE.COM, pada pembukaan perdagangan, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.900 per dolar AS, menandai pelemahan sebesar 0,36%. Fakta ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Jakartahype. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.