JAKARTA, BisnisMarket.com - Siapa sangka, maskapai yang kini menghubungkan ratusan kota di Asia Tenggara pernah dibeli hanya dengan harga 1 Ringgit Malaysia? AirAsia menyimpan kisah perjalanan yang penuh liku: pernah hampir gulung tikar, lalu melesat jadi raja penerbangan murah, hingga kini kembali diterpa badai keuangan yang menguji ketahanannya.

Jejak Awal: Bangkit dari Titik Nol

Didirikan pada tahun 1993 oleh DRB-HICOM Bhd, AirAsia awalnya justru merugi hingga mencapai 40 juta Ringgit dan berada di ambang kebangkrutan. Situasi berubah drastis pada September 2001, ketika Tony Fernandes bersama rekannya membeli perusahaan ini seharga hanya 1 Ringgit sekaligus menanggung seluruh utangnya.

Dikutip dari laporan Bloomberg Technoz (24/6), dalam waktu kurang dari satu tahun, AirAsia berhasil membalik keadaan. Dengan menerapkan konsep maskapai berbiaya rendah atau LCC yang cocok untuk pasar Asia Tenggara, mereka langsung mencetak laba dan melunasi seluruh utang. Ekspansi pun dimulai sejak 2003 hingga 2010 ke Thailand, Indonesia, Filipina, dan Kamboja. Hingga saat ini, AirAsia telah melayani lebih dari 900 juta penumpang dengan armada yang tumbuh dari 2 menjadi sekitar 250 pesawat.

Badai Pandemi dan Lonjakan Avtur

Namun, puncak kejayaan terhenti saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Pergerakan udara terhenti hampir sepenuhnya, mendorong kerugian miliaran Ringgit dan membuat induk usahanya, Capital A, masuk status perusahaan bermasalah keuangan di Bursa Malaysia.

Tekanan makin memburuk tahun ini akibat konflik geopolitik di Timur Tengah yang melambungkan harga avtur. Khususnya untuk PT AirAsia Indonesia Tbk, pada 2025 kerugian bersih tercatat mencapai Rp1,29 triliun, dengan biaya bahan bakar menyentuh Rp3,16 triliun. Total aset perusahaan hanya Rp5,05 triliun, sedangkan liabilitasnya membengkak hingga Rp15,79 triliun, menyisakan ekuitas negatif sekitar Rp10,73 triliun.

Terjebak Lingkaran Utang

Kondisi ini memaksa AirAsia X Bhd meminta penundaan pembayaran kepada pemasok dan penyewa pesawat, termasuk untuk sekitar selusin pesawat yang dirawat Rolls-Royce serta lebih dari 16 pesawat sewaan. Sebagai maskapai murah, ruang gerak menaikkan tarif sangat terbatas karena penumpang sangat peka terhadap harga.