BISNISMARKET.COM - Pemerintah Indonesia tengah mengarahkan fokus strategis untuk mengakselerasi proses hilirisasi di sektor industri farmasi nasional. Langkah ini dipandang sebagai salah satu upaya krusial dalam rangka mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi domestik yang ambisius, yakni mencapai angka 8%.

Upaya percepatan ini didorong oleh evaluasi mendalam mengenai dampak belanja kesehatan nasional selama ini. Ditemukan bahwa besaran belanja kesehatan yang telah digelontorkan belum mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian di dalam negeri.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara tegas menyampaikan dorongan ini dalam berbagai kesempatan. Beliau melihat bahwa terdapat potensi besar yang belum tereksploitasi dari sektor kesehatan jika rantai pasoknya masih rentan terhadap impor.

Masalah utama yang dihadapi oleh industri farmasi dalam negeri adalah tingginya ketergantungan pada produk jadi maupun bahan baku obat yang masih harus dipenuhi dari luar negeri. Ketergantungan ini menyebabkan devisa negara keluar dan mengurangi daya tahan ekonomi saat terjadi gejolak global.

"Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin secara tegas mendorong percepatan proses hilirisasi dalam industri farmasi nasional," demikian salah satu poin penting yang disampaikan. Strategi ini diyakini akan membalikkan keadaan neraca perdagangan kesehatan.

Lebih lanjut, Menkes Sadikin menekankan bahwa langkah hilirisasi ini merupakan salah satu strategi kunci untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ambisius, yakni sebesar 8%. Angka ini menuntut adanya lompatan signifikan dalam sektor strategis.

"Hal ini didasarkan pada evaluasi bahwa besarnya belanja kesehatan nasional selama ini belum mampu memberikan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan bagi perekonomian domestik," tegas beliau. Ini menunjukkan perlunya transformasi struktural dalam industri.

Penyebab utama dari kondisi tersebut adalah ketergantungan yang masih besar pada impor bahan baku farmasi. "Penyebab utamanya adalah tingginya ketergantungan pada produk farmasi serta bahan baku yang masih harus dipenuhi dari luar negeri," ungkap sumber tersebut.

Dilansir dari Tren.BisnisMarket, fokus pada hilirisasi bertujuan agar Indonesia mampu memproduksi sendiri bahan baku obat esensial. Hal ini tidak hanya menghemat devisa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di sektor industri berteknologi tinggi.