BISNISMARKET.COM - Konflik berkepanjangan selama tujuh minggu antara Amerika Serikat dan Iran kini tidak hanya mengguncang peta geopolitik dunia. Krisis ini juga menyingkap kerentanan utama Presiden Donald Trump, yakni tekanan ekonomi domestik yang kian memanas.
Meskipun operasi militer bersama Israel telah berlangsung sejak akhir Februari, rezim Teheran tetap berdiri kokoh. Situasi ini justru memaksa Washington untuk menyadari bahwa dampak ekonomi menjadi faktor paling krusial yang membatasi agresivitas militer Amerika Serikat.
"Trump merasakan tekanan ekonomi, yang merupakan titik lemahnya dalam perang pilihan ini," ujar Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di pemerintahan Obama yang memimpin Global Situation Room, dilansir dari Reuters.
Kenaikan harga bensin dan inflasi yang melonjak mulai menggerus tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah. Kondisi ini diperparah oleh aksi Iran yang menutup Selat Hormuz, sehingga memicu guncangan energi global yang mendorong kenaikan harga minyak mentah secara signifikan.
"Presiden Trump dapat melakukan dua hal sekaligus, yakni mengupayakan kesepakatan pasar energi sambil tetap fokus pada agenda pertumbuhan ekonomi nasional," kata Kush Desai selaku juru bicara Gedung Putih.
Memasuki 8 April, Trump mulai menunjukkan perubahan taktik dengan mengalihkan fokus dari serangan udara ke meja perundingan. Langkah diplomasi ini diambil sebagai solusi praktis untuk menenangkan pasar keuangan serta membantu sektor domestik, seperti petani yang terdampak kenaikan harga pupuk.
"Lonceng peringatan bagi sekutu saat ini adalah bagaimana perang telah menyoroti bahwa pemerintahan dapat bertindak secara tidak menentu tanpa mempertimbangkan konsekuensinya," kata Gregory Poling, ahli Asia di Center for Strategic and International Studies.
Ketidakpastian kebijakan ini juga membuat sekutu Amerika Serikat di Eropa dan Asia mulai meragukan stabilitas keamanan ekonomi global. Mereka khawatir dampak ekonomi dari konflik yang dimulai secara sepihak oleh Washington akan membebani negara-negara mitra dalam jangka panjang.
"Dia sadar bahwa sebagian besar masyarakat di luar basis pendukungnya, bahkan sebagian di dalamnya, menolak kebijakan ini, dan pada akhirnya harga politiknya akan dibayar," ujar analis politik Chuck Coughlin.