BISNISMARKET.COM - Situasi di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda pelunakan setelah Iran memutuskan untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat tertentu. Namun, dilansir dari CNBC Indonesia, ketidakpastian masih membayangi wilayah tersebut karena Amerika Serikat (AS) tetap bersikukuh melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pemerintah Iran merespons tekanan ini dengan ancaman akan menutup kembali jalur pelayaran vital tersebut jika blokade tidak segera dihentikan. Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa gencatan senjata yang berlangsung selama dua pekan kemungkinan besar tidak akan diperpanjang.

Dalam situasi yang terjepit ini, warga Iran menunjukkan resiliensi luar biasa dengan mencoba menjalani rutinitas normal setelah berminggu-minggu didera serangan udara. Meski demikian, ingatan akan tindakan represif pemerintah terhadap demonstran pada Januari 2026 tetap menjadi beban psikologis yang berat bagi masyarakat.

Data terbaru yang dilansir dari Reuters pada Sabtu (18/4/2026) menyebutkan bahwa dialog lanjutan antara Washington dan Teheran diharapkan bisa menghasilkan kesepakatan damai. Saat ini, aktivitas publik seperti pertokoan, restoran, hingga kantor pemerintahan di Iran masih terpantau beroperasi untuk menjaga stabilitas domestik.

Area publik seperti taman kota mulai dipenuhi oleh keluarga yang berpiknik, sementara para pemuda tampak aktif berolahraga di sela-sela ketegangan. Kafe-kafe di pinggir jalan juga menjadi titik kumpul warga yang mencari sedikit hiburan di tengah hancurnya fondasi ekonomi negara mereka.

Masyarakat kini harus berhadapan dengan dilema besar antara rasa marah akibat rumah yang hancur dan ketakutan terhadap kebijakan keras pemerintah yang baru. Kesulitan ekonomi yang diprediksi akan semakin parah ini dikhawatirkan bakal memicu gelombang kerusuhan massal seperti yang terjadi awal tahun ini.

Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz merupakan tindak lanjut dari kesepakatan gencatan senjata untuk wilayah Lebanon. Sementara itu, Donald Trump optimistis bahwa solusi permanen untuk mengakhiri konflik dengan Iran dapat segera dicapai dalam waktu dekat.

"Perang akan berakhir, tetapi justru saat itulah masalah nyata kita dengan sistem dimulai. Saya sangat khawatir jika rezim mencapai kesepakatan dengan AS, hal itu akan meningkatkan tekanan pada rakyat biasa," kata Fariba, seorang pria berusia 37 tahun yang aktif dalam aksi protes Januari lalu.

"Rakyat belum melupakan kejahatan rezim pada Januari lalu, dan sistem belum melupakan bahwa rakyat tidak menginginkannya. Mereka menahan diri sekarang karena mereka tidak ingin berperang di dalam negeri juga," ujar beliau.